Membangun dan Mewujudkan Visi: Proses Panjang Korea dalam Penanggulangan Bencana

korea_Penanggulangan Bencana di Korea

Historgrafi sejarah Korea Selatan mengalami keterpurukan selama kurang lebih 3 tahun karena Korea mengalami perang saudara pada tahun 1950 sampai dengan 1953. Perang tersebut mengakibatkan terpisahnya wilayah Korea menjadi Korea Selatan dan Korea Utara pada batas wilayah sepanjang 38 derajat lintang utara atau dikenal dengan Zona Demiliterisasi (DMZ). Sengketa masa lalu belum berakhir; dan dua negara ini masih dalam status gencatan senjata sejak diberlakukannya persetujuan gencatan senjata yang melibatkan negara Cina dan Amerika Serikat pada 27 Juli 1953. Perang saudara masih merupakan ancaman bagi kedua belah pihak. Dampak perang saudara pada kurun waktu tersebut menjadikan negara Korea berada pada masa kehancuran total. Namun demikian, Korea berhasil membangun kembali kehidupan sosial dan ekonomi pasca perang saudara serta menjadi salah satu kekuatan dunia dengan Human Development Index (HDI) mencapai 0,877.

Wilayah Korea Selatan atau Korea yang terletak pada posisi 37°35’N 127°0’E bertopografi berbukit dan tidak rata. Negara ini memiliki luas 98.480 km² yang terbagi menjadi wilayah darat 98.190 km² dan laut 290 km². Dilihat secara geografis, Korea atau dalam bahasa asal Dae-Han-Min-Gook terletak pada semenanjung (peninsula) di sebelah timur laut Asia. Wilayah bagian timur didominasi pegunungan dan wilayah barat berupa bagian rendah yang terdiri atas daratan pantai yang berlumpur. Negara dengan 4 musim―musim dingin, panas, semi, gugur―memiliki curah hujan lebih besar pada musim panas dibandingkan pada musim dingin. Sementara itu, ditinjau secara demografis, negara yang dikenal dengan Negeri Gingseng ini berpenghuni sekitar 49 juta penduduk yang terkonsentrasi di Seoul, ibu kota Negara Korea sekaligus kota terbesar di Korea atau special city. Data populasi penduduk di Seoul tahun 2009 menunjukkan jumlah 10,4 juta jiwa.

Kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis memungkinkan wilayah Korea memiliki beberapa karakteristik bencana. Bencana alam yang terjadi di Korea memiliki jenis berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. Bencana yang disebabkan oleh faktor geografis dan hidrologis mendominasi kejadian bencana di Korea, antara lain angin topan (typhoon), badai salju (heavy snow), hujan deras (heavy rain) yang kemudian menyebabkan banjir besar, dan badai debu (yellow sand). Faktor kegagalan teknologi, wabah penyakit, dan teror atau bahkan perang juga menjadi potensi ancaman bencana bagi Korea.

Pemerintah Korea memiliki konsep pemikiran yang komprehensif yang melandasi kebijakan penanggulangan bencana di wilayahnya. Diawali dengan suatu pemikiran akan arti sebuah krisis dan serangkaian pengalaman kejadian bencana. Krisis dimaknai sebagai suatu peristiwa dan atau situasi yang membahayakan sistem yang telah mapan dan kesejahteraan, kehidupan, serta harta benda dari masyarakatnya (Jae Eun, 2011). Korea belajar dari krisis dan bencana yang pernah terjadi selama ini di Korea, seperti runtuhnya toserba Sampoong (1995), angin topan Rusa (2002) dan Maemi (2003), dan juga kemungkinan akan krisis lain seperti aksi teror, epidemi suatu penyakit, bencana alam akibat pemanasan global atau pun kegagalan teknologi. Di sisi lain, sistem yang dimaksudkan pada definisi krisis mencakup banyak hal, seperti sistem negara, sosial masyarakat, pemerintah, organisasi, lingkungan, dan sebagainya.

Kemudian sistem-sistem yang ada dikelompokan dalam empat sistem besar yang terkait dengan berbagai jenis krisis atau bencana yang pernah dan mungkin terjadi. Berikut tabel empat sistem besar dengan jenis-jenis krisisnya menurut Jae Eun Lee (2011):

Sistem Jenis Krisis (Bencana)
Politik Perang, perselisihan bersenjata, kudeta, teror, subversi, pembajakan
Ekonomi-teknologi Bangunan runtuh, ledakan gas, pencemaran radioaktif, aliran materi berbahaya, limbah toxic, pengrusakan lapisan ozon
sosial Kerusuhan, wabah penyakit menular, epidemi, dan kekerasan
Alam Banjir, angin topan, gempa bumi, kekeringan, kerusakan akibat cuaca dingin, badai

Sementara itu, dilihat dari jenis krisis atau bencana dapat dikelompokan dalam tiga bencana, antara lain bencana alam (natural disaster), bencana sosial (social disaster), dan bencana yang disebabkan manusia (man-made disaster). Social dan man-made disaster digolongkan dalam bencana non alam (non-natural disaster). Dengan berjalannya waktu, penanggulangan bencana lebih difokuskan pada bencana yang disebabkan oleh alam daripada bencana yang ditimbulkan oleh manusia. Hal tersebut tampak dari kejadian bencana yang terjadi secara periodik setiap tahunnya. Hujan salju atau bahkan badai salju merupakan potensi bencana pada bulan Januari sampai dengan Maret, badai debu pada bulan April dan Mei, angin topan dan hujan deras pada bulan Juni sampai dengan September, dan bada salju pada bulan Desember. Terkait dengan badai debu atau yellow sand, kejadian alam ini merupakan fenomena meteorologi yang bermula dan berhembus di padang pasir Mongolia, Cina utara, dan Kazakhstan. Hembusan debu yang berkecepatan tinggi kemudian melewati Cina dan mengarah ke Korea, dan Jepang.

Pemikiran tentang krisis melandasi langkah-langkah negara dalam menyikapi potensi dan ancaman bencana di wilayahnya. Langkah tersebut tercermin pada peran negara dalam melindungi rakyat dan asetnya dari ancaman dan dampak bencana. Peran konkret diformulasikan dalam kebijakan nasional penanggulangan bencana. Kebijakan penanggulangan bencana melibatkan beberapa strategi penting yang mencakup mitigasi (mitigation), kesiapsiagaan (preparedness), tanggap darurat atau respon (response), dan pemulihan (recovery). Setiap krisis yang kemudian berakhir dengan bencana, manusia dan harta benda menjadi fokus perhatian dalam penanggulangannya. Oleh karena itu paradigma mitigasi dan kesiapsiagaan merupakan kunci dalam merespon krisis yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan bencana.

Penanggulangan bencana Korea mengalami perkembangan setelah tragedi kapal feri Sewol pada 16 April 2014. Kala itu, kapal feri yang ditumpangi para siswa Dawon High School yang berencana melakukan perjalan edukatif ke Pulau Jeju berakhir tenggelam di wilayah Donggeochado, Jindo County, Korea Selatan. Sebanyak 325 siswa menjadi korban dan hanya 75 selamat. Kapal seberat 6.825 ton diduga oleh seorang awak kapal pemerintah mengalami kerusakan mesin. Jatuh banyak korban disebabkan beberapa faktor, seperti prosedur penyelamatan para kru feri tidak berjalan dan durasi waktu kedatangan bantuan dari penjaga pantai dan angkatan laut.

Salah satu restrukturisasi dari perubahan penanggulangan bencana adalah pembentukan Kementerian Keselamatan dan Keamanan Publik atau Ministry of Public Safety and Security (MPSS). Pembentukan institusi ini berasal dari dukungan komponen nasional dan didukung beberapa institusi yang terkait dengan konteks bencana. Tidak hanya itu, visi baru ‘Safe Society Everywhere from Disaster’ dalam penanggulangan bencana menjadi milik bersama.

Keumho Oh dari National Disaster Management Research Institute (NDMI) mengemukakan bahwa bencana di Korea disebabkan kegagalan teknologi dan kecelakaan industri. Terjadi proses dalam penyempurnaan penanggulangan bencana meskipun terjadi masalah yang mirip selama kurun waktu 20 tahun. Oh menyebutkan beberapa contoh bencana non alam yang menjadi refleksi otoritas nasional, seperti runtuhnya departemen Sampoong (1995), kebakaran kereta bawah tanah Daegu (2003), kebocoran gas di Gumi (2012) dan tenggelamnya kapal feri Sewol (2014). Dari peristiwa tersebut, NDMI mengeluarkan hasil kajian bahwa empat faktor menjadi penyebab bencana, yaitu ketentuan yang belum diatur dalam regulasi, lemahnya inspeksi keselamatan, latar belakang pendidikan yang tidak sesuai dengan spesifikasi khusus serta kurangya infrastruktur. Melalui MPSS, kendali tanggap darurat dan pemulihan berada pada satu pintu. MPSS memiliki tanggung jawab besar dalam penanggulangan bencana.

Revisi secara fundamental pada aspek regulasi pun dilakukan sebagai refleksi dari visi baru mereka. Saat ini Korea memiliki 38 undang-undang penanggulangan bencana dan lebih dari 5.000 dokumen standar operating procedure (SOP). Sementara itu, revisi lain mencakup pertama, perbaikan sistem operasi di kantor pusat MPSS merupakan langkah paling utama, dimana perdana menteri dan kantor pusat memiliki peran yang jelas pada konteks bencana tertentu. Kedua, perbaikan sistem operasi pada Pusat Pengendali Insiden hingga tingkat direktur perwakilan MPSS di tingkat lokal. Ketiga, kejelasan komandodi saat insiden, seperti petugas pemadam bertanggung jawab pada insiden darat, dan penjaga pantai atau coast guard pada insiden laut. Terakhir, penerjunan tim khusus yang secara cepat berada di lokasi insiden. Tim penyelamatan khusus ini dapat beroperasi di darat dan laut dan bergerak cepat dengan memperhitungkan golden time.

Pembaruan penanggulangan bencana tidak terlepas peran penting NDMI. Institusi di bawah MPSS ini secara khusus bergerak di bidang penelitian bencana. Lahir pula dari institusi ini, Framework Act on the Management of Disaster and Safety sebagai payung untuk semua peraturan-peraturan dasar tentang penanggulangan bencana. Framework ini memuat sebuah pasal yang menyebutkan bahwa warga negara berkewajiban dalam penanggulangan bencana.

Arah Kebijakan dalam Inovasi Keselamatan

Dalam implementasi untuk menjamin keselamatan, khususnya dalam konteks bencana non-alam, MPSS melakukan beberapa langkah. Otoritas nasional melakukan pemeriksaan dan analisis terhadap institusi dengan menerapkan siklus yang berpusat pada keselamatan.

Suatu siklus yang terbagi ke dalam empat komponen utama, yaitu meningkatkan kapasitas institusi. Komponen ini ingin memastikan bahwa institusi memiliki kapasitas yang mumpuni dimana fungsi kontrol terhadap keselamatan berjalan. Di samping itu, sistem respon yang cepat dapat terbangun sebagai indikator bahwa institusi tersebut berkapasitas.

Setelah dilatih untuk meningkatkan kapasitas, mereka mampu untuk melakukan inspeksi, seperti menilai atau mengkaji kelayakan sebuah feri untuk melakukan perjalanan, SOP yang memadai untuk diterapkan atau pun kajian risiko yang berpengaruh terhadap kerentanan. Komponen selanjutnya adalah memperluas pendidikan dengan tujuan utama menginternalisasi pendidikan keselamatan ke dalam aspek perilaku. Komponen keempat yaitu penguatan infrastrukutur. Hal ini dicontohkan terkait pencapaian standar keamanan industri dan penguatan secara finansial terhadap pemerintah daerah.

Pelatihan NDTI

Di sisi lain, otoritas nasional memiliki National Disaster Training Institute (NDTI) yang bertugas memberikan materi terkait keterampilan, pelatihan dalam praktek, dan mengedukasi. Sejak terjadinya insiden kapal feri Sewol, NDTI mensyarakatkn pelatihan khusus, seperti evakuasi dari kapal yang tenggelam. Program pelatihan NDTI melibatkan setiap warga negara dan dilakukan sejak dini hingga usia senja. Bersama semua institusi pemerintah, lebih dari 400 organisasi dengan melibatkan setiap warga negara melakukan pelatihan setiap bulan Mei.

Kesadaran akan aspek selamatan harus diberikan sejak dini dan otoritas ini memberikan pelatihan seumur hidup bagi setiap warga negara.

 Belajar dari Korea

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Keselamatan dan Keamanan Publik (MPSS) saling berbagi pengalaman penanggulangan bencana. Tujuan kegiatan ini untuk mempererat kerjasama dan berbagi pengalaman yang nantinya bermanfaat dalam penanggulangan bencana untuk masing-masing negara. Sementara itu, penanggulangan Bencana Korea telah bertransformasi dalam suatu sistem yang lebih baik. Salah satu yang sangat mendasar adalah visi bersama lintas lembaga dan kementerian. Visi terdahulu adalah ‘Safe Nation’ yang kemudian berkembang menjadi ‘Safe Nation, Happy People.’

Korea telah melakukan reorganisasi sistem penanggulangan bencana hingga terbentuknya MPSS pada 2014. “Insiden tenggelamnya Kapal Sewol memberikan pembelajaran dan mendorong kami untuk membangun sistem tanggap darurat yang aktif, antisipatif, dan lebih efektif,” kata Keumho Oh, Kepala Divisi Penelitian Pencegahan Bencana, Institut Penelitian Penanggulangan Bencana Nasional (NDMI) pada Selasa lalu (31/5) di Hotel Plaza, Seoul. Melalui MPSS, berbagai lembaga dan unit kerja bekerja sama dalam menjamin keamanan dan keselamatan warga negara.

Saat ini penanggulangan bencana Korea mendorong setiap warga negara untuk turut aktif dalam merespon dan memonitor setiap insiden yang terjadi di wilayah. Kecanggihan teknologi telah dibangun oleh MPSS, seperti pemanfaatan smartphone yang memungkinkan warga untuk berinteraksi dalam merespon insiden atau bencana. Di sisi lain, pendidikan dan pelatihan juga menjadi kunci dalam membangun pemahaman dan kemampuan publik dalam beradaptasi dengan potensi bahaya.

Pendidikan dan pelatihan tersebut diberikan kepada seluruh warga Korea, “Pembentukan persyaratan khusus untuk pelatihan dan pendidikan yang tersambung melalui sistem yang komprehensif di tingkat nasional dan lokal,” ujar Misook Kim, Deputi Direktur Institut Pelatihan Pertahanan Sipil dan Penanggulangan Bencana Nasional (NDTI). NDTI ini merupakan lembaga yang bekerja untuk pemerintah dan memfokuskan dalam pengembangan program pelatihan yang nantinya diimplementasikan oleh setiap pemerintah daerah, yang melibatkan setiap warga negara untuk melalukan pendidikan dan pelatihan.

Terkait dengan pendidikan dan pelatihan, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana BNPB, Bagus Tjahjono, menyampaikan bahwa BNPB sedang mengembangkan blended dan distance learning sebagai upaya membangun kapasitas sumber daya di daerah. Distance learning atau pembelajaran jarak jauh dikembangkan BNPB tidak hanya karena keefektifan waktu terhadap jumlah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetapi juga catatan pembelajaran dari daerah yang sangat berharga untuk didokumentasikan.

Delegasi BNPB yang juga kelompok kerja Knowledge Management bersama perwakilan BPBD DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Tengah berkesempatan untuk berkunjung dan berdiskusi di Kantor MPSS, Kantor Meteorologi Korea (KMA), dan Kantor Penjaga Pantai (KCG). Kunjungan kerja yang berlangsung pada 31 Mei – 3 Juni 2016 didukung oleh Bank Dunia Indonesia dan Korea.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s