Tak Satupun Tewas Saat Banjir Bandang Terjang Bima

 

Mungkin tak seorang pun menduga, Kota Bima akan diterjang banjir bandang hebat. Memasuki musim hujan pada Desember 2016 lalu, potensi intensitas hujan sangat tinggi di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Banjir Bandang pada akhirnya terjadi pada 21 dan 23 Desember 2016. Banjir bandang Kota Bima sangat mengancam jiwa manusia dan merusak sarana dan infrastruktur. Banjir berdampak pada listrik padam selama 4 hari, fasilitas air bersih PDAM rusak di 7 titik dan jalur komunikasi putus. Sekitar 26.256 keluarga atau 105.797 jiwa terdampak di 5 kecamatan di Kota Bima. Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kerugian negara pascabanjir bandang sekitar Rp 1,479 triliun.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dua tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah selatan Bali dan  Nusa Tenggara Timur yang mengakibatkan perlambatan dan belokan angin di Pulau Sumbawa, khususnya Kota Bima, sehingga awan cumulonimbus terus tumbuh dan memberikan peluang hujan berkelanjutan dengan intensitas sedang hingga lebat dan durasi yang lama menyebabkan hujan lebat yang kemudian memicu banjir bandang. Analisis lanjutan bahwa hujan sedang hingga lebat yang terjadi di wilayah Kota Bima dan sekitarnya pada 23 Desember 2016 disebabkan suhu muka laut yang cukup hangat dan efek siklon tropis Yvette. Siklon ini terjadi di wilayah barat daya Australia sehingga terbentuk daerah konvergensi dan belokan angin di sekitar wilayah Pulau Sumbawa. Kondisi ini mengakibatkan hal serupa pada tiga hari sebelumnya.

Laporan BMKG menyebutkan bahwa banjir dengan ketinggian hingga 3 meter terjadi di Kelurahan Kodo, Ndodu, Kumbe, Penaraga, Penatoi, Sadia, Rabangodu Utara, Rabangodu Selatan, Rabadompu Barat, Rabadompu Timur, Manggemaci, Paruga, Lewirato, Jatiwangi, Tanju, Dara, Kendo, Manggge Na’e dan sekitar pada 21 Desember 2016. Melihat curah hujan, hujan yang terjadi pada 20 Desember 2016 cukup ekstrim yaitu 116 mm.

Sementara itu, Pemerintah Kota Bima melaporkan bahwa hujan turun dengan intensitas sedang pada Selasa malam (20 Desember 2016) hingga  Rabu keesokan harinya. Wilayah hulu terpantau hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Koordinasi Menyelamatkan

Meskipun banjir bandang bagaikan tsunami kecil menerjang dengan ketinggian 3 meter, tidak seorang pun menjadi korban. Hal tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor yang saling berhubungan menjadi sebuah sistem peringatan dini yang berhasil. Pertama adalah kepemimpinan atau leadership. Hal tersebut tampak pada peran BMKG yang secara cepat melakukan update peringatan dini kepada stakeholders, seperti BPBD, TSBK dan tim SAR. Peran BMKG dalam memonitor perkembangan cuaca ekstrim dan mengkomunikasikan kepada pemerintah daerah setempat, khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima sangat krusial. Sebagai bagian dari mata rantai sebuah sistem, stakeholder lain juga berperan dalam mengorganisir dan menginformasikan langsung kepada warga yang berpotensi terdampak banjir bandang. Inisiatif dari masing-masing stakeholder tersebut menjadi komponen kepemimpinan yang patut direplikasi di berbagai wilayah di Indonesia yang rawan banjir.

Di samping itu, transfer informasi secara cepat menjadi salah satu faktor dalam mata rantai peringatan dini yang berhasil. Meskipun menggunakan beberapa pendekatan dalam berkomunikasi, penggunaan media komunikasi sederhana menjadi pilihan tepat. Komunikasi sederhana dalam bentuk Whatsapp, informasi perkembangan cuaca ekstrim atau peringatan dini cuaca dari BMKG diterima secara cepat oleh grup Siaga bencana yang terdiri atas BPBD, Tim Siaga Bencana Kelurahan (TSBK), Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), komunitas Orari, tim Search and Rescue (SAR), dan beberapa organisasi lain.

Informasi cuaca tersebut terpantau secara terus menerus oleh BPBD. BPBD sebagai focal point penanggulangan bencana di daerah melanjutkan berkoordinasi dengan TSBK untuk mendapatkan informasi curah hujan dan debit air sungai di hulu, Wawo dan Ambalawi. Berbekal handy talky (HT), BPBD memonitor kesiapsiagaan TSBK di masing-masing kelurahan. TNI dan Polri memback-up komunikasi melalui radio untuk memastikan informasi evakuasi diterima oleh aparat babinsa atau Bintara Pembina Desa di setiap desa. TSBK melaporkan bahwa debit air di Sungai Melayu di Jatibaru-Jatiwangi dan Sungai Padolo di Lampe, Dodu, Nungga, Kendo, Ntobo meningkat pada pukul 10.00 waktu setempat. Dua jam berselang, debit air meluap dan sekitar pukul 15.30 waktu setempat banjir bandang menghantam pada 21 Desember 2016.

TSBK dengan cepat menginformasikan kepada warga untuk melakukan evakuasi dan siaga. Sebagian besar masyarakat melakukan penyelamatan dan evakuasi ke rumah dua lantai milik warga. Faktor krusial lain adalah bagaimana warga dapat menerima informasi secara baik atau well-informed mengenai potensi ancaman bahaya banjir. Upaya yang luar biasa bagaimana evakuasi ribuan warga entah mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi dan aman atau hanya di sekitar tempat tinggal warga berhasil dengan baik.

Selain kisah sukses evakuasi warga tersebut, kearifan lokal warga setempat dapat terus dilestarikan. Seperti apa yang berlangsung di wilayah-wilayah lain di Indonesia, gotong royong terbentuk ketika ada kelompok masyarakat lain yang membutuhkan pertolongan. Hal tersebut disampaikan oleh Walikota Bima Qurais H. Abidin yang menyampaikan bagaimana semangat gotong royong untuk membantu warga terdampak. Warga berinisiatif menyediakan nasi bungkus. Saat itu, 1 rumah menyediakan 6 nasi bungkus Karena dapur umum hanya mampu menyediakan 20.000 bungkus padahal warga terdampak hingga 105.000.

Pascabencana banjir bandang pemerintah daerah menetapkan status Darurat Bencana Banjir selama 15 hari dari 22 Desember 2016 hingga 5 Januari 2017. Status ini berlanjut dari 5 Januari hingga 19 Januari 2017. Kota Bima merupakan kota yang memiliki indeks risiko bahaya banjir dengan kategori tinggi. Dilihat dari kondisi geografis, 60% Kota Bima terdiri dari perbukitan yang mengelilingi wilayah pemukiman dimana dua sungai besar, Padolo dan Melayu, melalui pemukiman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s