Dos and Donts, Prepare Our Safety Using Commuter

Pernakah Anda menggunakan tranportasi kereta rel listrik (KRL) atau commuter? Pelayanan transportasi jenis ini ternyata telah berlangsung sejak 1976 dan infrastruktur dan manajemen pelayanan terus ditingkatkan. Commuter mengangkut penumpang harian rata-rata hingga 700 ribu. Transportasi jenis ini menjadi salah satu pilihan warga karena waktu tempu yang cepat dan tidak terhalang kemacetan.

com-line-2Sebetulnya Pengalaman saya menggunakan jenis transportasi ini ketika tinggal di Jakarta dan kemudian Bogor. Ketika pertama kali menggunakan transportasi ini, saya merasa bingung, mulai dari pembelian tiket, rute, peraturan, transit, dan akses. PT KAI Commuter Line sebagai penyedia jasa sendiri melakukan perbaikan pelayanan dari waktu ke waktu.

Masih ingat pertama kali menggunakan transportasi ini, kita harus membeli tiket kertas yang terbagi ke dalam tiga kelas, dari ekonomi, bisnis hingga eksekutif. Kalau kita menggunakan commuter kelas ekonomi, risiko sangat tinggi. Beberapa gerbong tanpa pintu. Beberapa tahun lalu, pengamen, pedagang, warung makan penjual asongan menguasai stasiun. Belum lagi suasana di dalam sangat menyesakkan, penjual makanan ringan lalu lalang. Belum lagi penumpang gelap yang hinggap di atas gerbong, tidak hanya membahayakan nyawa mereka tetapi perjalanan penumpang lain.

Namun kita merasa bangga karena pelayanan commuter lebih baik hari ini. Meskipun demikian kita tetap harus waspada karena faktor keamanan yang belum menjadi prioritas selama menggunakan commuter, seperti akses masuk gerbong, penyeberangan antar peron, ruas peron, maupun pelintasan yang bersinggungan dengan jalan kendaraan.

Dos and Donts

Selama menggunakan transportasi Communter, saya menerapkan standar personal untuk keamanan dan keselamatan.

  • Sadar saya di ruang publik. Saya coba selalu sadar bahwa saya berada di ruang publik. Ini berarti kebebasan kita dibatasi oleh kepentingan yang lebih besar.
  • Ketika memasuki pintu tiket, saya sudah siapkan kartu pintu tiket sehingga orang di belakang saya tidak harus tertunda. Pastika saldo sudah mencukupi untuk perjalanan yang telah direncanakan. Saya mencoba untuk tidak menyerobot antrian dan selalu melihat situasi sekitar.
  • Berjalan sepanjang peron terkadang merepotkan. Saya mencoba untuk tidak menghalangi akses orang lain atau berjalan pelan dengan menggunakan handphone. Harus diakui, peron di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi belum memadai. Saya pikir perencanaan tidak terlalu matang. Pihak manajemen tidak memikirkan lonjakan penumpang commuter selama 5 tahun atau 10 tahun ke depan, bahkan 20 tahun. Terkadang keselamatan penumpang menjadi taruhan. Lebar peron di setiap stasiun tidak terlalu memadai untuk keselamatan penumpang. Terkadang penumpang tergesa-gesa untuk mengejar commuter dengan tujuan lain tanpa memperdulikan kenyamanan atau keselamatan.
  • Ketika memilih peron sesuai dengan rute, saya perhatikan akses yang tersedia. Beberapa stasiun memiliki tunnel dan penyeberangan melintasi rel commuter. Ketika memasuki tunnel, saya memperhatikan anak tangga, banyak orang cenderung di sebelah kiri atau kanan. Apabila saya ingin cepat tentu melalui anak tangga yang luang dan memperhatikan pengguna dari arah berlawanan. Di luar negeri, saya bisa cermati bagaimana orang-orang menuruni anak tangga. Mereka akan menggunakan salah satu sisi khusus mereka yang sedang terburu-buru. Kalau tidak salah, escalator di Bandara Solo sudah memberikan informasi terkait hal ini pada escalator.
  • Pada saat menunggu commuter yang belum tiba, saya mencoba memperhatikan garis kuning atau putih aman. Ini sangat penting agar kita tidak terserempet kereta. Saya juga hati-hati ketika berdiri di dekat peron untuk mengantisipasi apabila ada orang terburu-buru dan mendorong dengan tidak sengaja sehingga terkena sambaran commuter.
  • Saya selalu memastikan apabila menggunakan earphone saya masih dapat mendengar suara di sekeliling. Ini untuk mengantisipasi insiden saat menyeberang melewati rel kereta atau pun dalam situasi apa pun di dalam gerbong atau stasiun.
  • Kemudian, ketika commuter tiba, saya perhatikan pintu otomatis. Saya coba untuk tidak berdiri tepat di pintu. Ini akan menyulitkan penumpang yang ingin turun. Saya coba untuk berdiri di samping, meskipun peluang mendapatkan kursi sangat kecil. Jadi persiapan diri sebelum menaiki commuter perlu diperhatikan, apakah kita haus atau lapar atau tidak kuat berdiri selama perjalanan.
  • Ketika sudah masuk dan ada kemungkinan tempat duduk kosong, saya coba untuk perhatikan apakah ada stiker peumpang kelompok khusus, seperti penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu dengan bayi atau lanjut usia. Kalau misalnya saya mendapat tempat duduk dan di sekitar ada penumpang lanjut usia atau termasuk kelompok tadi saya akan menyilakan untuk mengambil tempat duduk saya.
  • Ketika saya harus berdiri dan membawa tas ransel, saya akan kalungkan dengan tas di depan. Aku mencoba untuk tidak menyenggol penumpang lain yang ada di belakang. Dan ketika ada pegangan, saya coba untuk meraih satu pegangan saja dan tidak dua.img_20170213_170718
  • Selama berada di stasiun dan gerbong, saya tidak lupa untuk menempatkan kartu tiket dan dompet di tempat tersembunyi. Ini untuk menghilangkan risiko dicuri atau pun terjatuh. Terkadang situasi sesak pada jam sibuk mendorong peluang oknum untuk beraksi terhadap dompet.
  • Satu hal yang selalu tidak lupa adalah melihat potensi terburuk, suatu insiden. Saya selalu lihat posisi pintu dan alat pemecah kaca, serta tipe jendela dan bagaimana membukanya. Dan tidak kalah penting memantau perilaku penumpang di sekeliling dan mencoba menebak karakter mereka, apakah dia penumpang yang mudah panik, suka menang sendiri, egois, tidak peduli dengan penumpang lain dan sebagainya. Ketika insiden terjadi, biasanya penumpang memiliki periode panik dan ketika itu terjadi situasi pasti sangat
  • Yang selalu diingat, kita dapat mengamati rambu-rambu dan peraturan. Saya dapat melihatnya dalam bentuk stiker pada pintu gerbong, seperti sikap hati-hati dengan pintu otomatis, jangan bersandar di pintu otomatis, hati-hati melangkah pada celah peron, maupun denda.
  • Apabila saya terburu-buru, saya selalu hati-hati dengan diri sendiri dan orang lain, seperti melewati penumpang yang berada di peron. Namun saya selalu upayakan untuk bersabar karena kenyaman dan keselamatan lebih utama.

Satu tantangan besar adalah tetap konsisten dengan standar yang kita miliki. Terkadang kita terprovokasi dengan perilaku penumpang lain dan melupakan standar yang saya terapkan.img_20170306_062109

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s