Compassion Fatigue

Istilah ini pertama kali terdengar dari Ahmad Arif ketika berkisah mengenai seorang jurnalis yang terlalu lama berada atau meliput kejadian bencana. Menurut Wikipedia, compassion fatigue memiliki definisi a condition characterized by a gradual lessening of compassion over time.

Lalu, merefleksikan kembali pengalaman beberapa tahun timbul suatu keprihatian, apakah yang dialami saat ini sebagai compassion fatigue.

Berawal pada tahun 2003 ketika bergelut dengan pengungsi Timor Timur. Pascareferendum 1999, gelombang ratusan ribu warga Timor Timur memasuki wilayah Timor Barat. Ribuan anak-anak akhirnya terpisah karena situasi kacau saat itu hingga memunculkan banyak kasus perdagangan anak dan anak terpisah atau separated children.

Mungkin kita yang berada di Pulau Jawa tidak pernah paham kondisi Timor Timur yang berada pada kondisi perang saudara. Pada akhirnya mereka memutuskan suatu referendum atau jajak pendapat yang memenangkan kelompok pro kemerdekaan untuk membentuk sebuah negara baru.

Begitu sedihnya pertama kali saat bertugas di bawah sebuah organisasi kemanusiaan internasional yang bergerak di bidang pengungsi, Jesuit Refugee Service (JRS). Hadir di tengah ribuan warga pengungsi merupakan passion terbesar saat itu. Mandat yang dijalankan sesuai dengan misi JRS, yaitu to accompany, to service and to advocate.

aktivitas di dapurSetiap hari bekerja, pertemuan dengan para pengungsi membuat takjub. Mereka tersebar di banyak camp, Noelbaki, Tuapukan, Naibonat. Belum lagi mereka yang berada di kabupaten-kabupaten lain di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur. Mendengar kisah heroik hingga kesedihan sangat dekat dengan telinga. Banyak dari mereka adalah kelompok-kelompok milisi yang memiliki sejarah bertempur di hutan belantara Timor Timur. Banyak kisah yang mereka bagikan dan terkadang tidak tahu harus merespon seperti apa. Mendengar dan mendengar kisah mereka membuat mereka nyaman dengan keberadaan kita. Mereka punya uneg-uneg untuk meringankan rasa kesedihan harus meninggalkan tanah nenek moyang.

Kisah lain, bagaimana mereka kehilangan sanak saudara selama perang gerilya puluhan tahun, kehilangan harta benda karena mengungsi, atau terpisah dengan anak-anak karena tidak sempat menyelamatkan, perjumpaan dengan seorang milisi yang menurut kisahnya berhasil menemukan persembunyian Xanana. Kemudian, pertemuan dengan seorang ibu pun terjadi dan dekat dengan setiap kunjungan kami. Ibu yang sangat baik ini selalu menghidangkan makan dan minum setiap kali berkunjung. Tak disangka, cerita yang diperoleh bahwa seorang ibu yang baik hati itu dulu bekerja untuk kelompok milisi dan ahli dalam menginterogasi lawan. Dapat dibayangkan apa yang dia lakukan kala dulu.  Ada lagi kisah seorang pro integrasi yang notabene juga seorang milisi menceritakan bahwa dia harus mengirim gula dan kopi untuk acara kampung dengan menggunakan paspor.

Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Dan kita harus menyatu dengan mereka. Minum apa yang mereka sajikan meskipun kurang yakin dengan rasa yang sampai ke lidah kita. Makan apa yang mereka masak. Pernah ketika musim kering hebat terjadi, mereka hanya bisa makan sagu dari pohon Gewang, yang biasanya untuk makanan babi. Santapan dengan taburan kelapa parut pun tersaji waktu itu. Nikmat juga ketika perut kosong. Mereka merupakan orang yang sangat menghormati kita sebagai teman. Mereka akan lebih mementingkan kita sebagai tamu dengan menghidangkan apa saja yang mereka punya.

Mendampingi berarti berada dekat dengan mereka. Kita pun dengan tulus menyatu dengan lingkungan camp di sana. Ketika hujan turun dan genangan air yang tinggi ada di mana-mana di dalam pos pengungsian atau camp, kita pun harus melewatinya. Melewati genangan sudah lagi tak terasa jijik. Air yang bercampur dengan kotoran babi, anjing, ayam dan manusia dilewati ketika genangan muncul di pos pengungsian.

toiletBerada di dekat kondisi kemiskinan, kesedihan, kemarahan, kekosongan, kegembiraan, dan hasrat untuk kembali ke tanah nenek moyang merupakan momen berharga dalam hidup. Meskipun itu tidak disadari telah membuat perubahan dalam diri, apa yang dibilang sebagai compassion fatigue. Suatu beban yang luar biasa ketika menanggung kisah masa lalu mereka berada di tanah kelahiran. Hampir setiap hari selama 4 tahun, rutinitas ini dijalani. Puluhan bahkan ratusan kisah manusia hinggap di telinga, pikiran dan hati. Mereka adalah teman dan sahabat dengan keunikan kisah hidup.

Ada benarnya, mereka yang bekerja di bidang kemanusiaan seperti bencana atau konflik, membutuhkan ruang untuk ‘bebas’ dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Hindari terlalu lama di lokasi bencana atau rotasi untuk mencapai keseimbangan fisik dan spiritual sangat membantu dalam menjauhkan compassion fatigue. … 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s