Compassion Fatigue (2)

Perjalanan untuk melayani pengungsi atau internally displaced people (IDP) berlanjut ke Pulau Buru yang terletak di Kepulauan Maluku. Semenjak berada di Timor Barat, kondisi konflik kekerasan di Maluku sudah terbayangkan bagaimana tragisnya pertumpahan darah akibat perang saudara.

Menuju Pulau Ambon akhir 2004 waktu itu, kondisi keamanan sudah sangat membaik. Meskipun saat itu sempat terdengar bahwa berita sniper masih gentayangan di Pulau Buru. Tiba di Pulau Ambon tampak pos-pos yang masih dijaga personel keamanan. Kondisi kota gelap.

Pada waktunya perjalanan pun berlangsung ke pulau yang dikenal sebagai penghasil minyak kayu putih. Banyak kisah menarik mengenai Pulau Buru, mulai dari pulau para tahanan politik (tapol), salah satunya figur Pramoedya Ananta Toer, anak koin, hingga kawin piara.

Cerita dari seorang pejuang kemerdekaan, pulau yang masih dihuni tapol sempat heboh kala itu. Dia bercerita ketika jurnalis asing mewawancara tapol mengenai apa yang dimakan selama menjadi tahanan. Wawancara menggunakan bahasa Inggris itu kurang dipahami oleng sang tapol. “mice” yang terlontak dari mulut sang tapol. Jurnalis asing pun kaget mendengar pernyataan tapol. Hasil wawancara terdengar melalui hasil wawancara yang tercetak di koran asing. Padahal maksud sang tapol itu “rice.” Mice merupakan kata bahasa Inggris dan bentuk jamak dari mouse atau tikus.

Ketika menjelajah Buru bagian utara, kondisi lingkungan tidak jauh berbeda dengan suasana pedesaan di tempat kelahiran. Hijau sawah ditemui di wilayah pedesaan yang tidak lagi menyisakan tapol.

Banyak kisah sedih selama konflik kekerasaan terjadi, ada juga cerita yang tidak dapat dipahami oleh akal sehat. Cerita seorang pemuda yang hanya bersama dua tokoh suku setempat dengan gagah berani menjaga kampung mereka. Dia berkisah bagaimana mereka bertiga menjaga kampung dari serangan pihak luar. Lalu, kisah orang-orang yang dengan keji menghabisi lawan tiba-tiba menjadi tidak waras atau tewas bak ditelan bumi untuk sebuah keadilan. Bagaimanapun juga, perdamaian segera terbangun kembali pascakonflik. Ini dilatarbelakangi hubungan darah maupun kesamaan suku yang mendiami Pulau Buru meskipun berbeda keyakinan. Konflik kekerasan karena satu pihak terprovokasi pihak luar yang sangat biadab untuk menyerang saudara mereka sendiri.

Cerita-cerita kehidupan manusia Buru mulai terkuak, seperti kisah lain mengenai anak koin, anak laki-laki penjaga adat leluhur. Seorang bocah yang telah ditunjuk secara turun temurun untuk hidup sesuai tradisi mereka tanpa intervensi teknologi. Ada juga satu kisah menyentuh tentang bagaimana anak-anak perempuan dieksploitasi atas nama tradisi laki-laki dewasa setempat.

kelas gambar 2

Di kampung-kampung yang jauh dari Kota Namlea, dikenal istilah kawin piara. Frase ini menjelaskan bagaimana seorang laki-laki dewasa membayarkan sejumlah harta berupa uang dan barang-barang yang telah ditentukan secara adat sehingga dirinya berhak membawa pulang sang istri yang masih belum muda belia dan bahkan anak-anak. Status perkawinan akan disahkan ketika sang istri sudah pada usia matang secara fisik.

Masih teringat seorang istri kepala dusun di salah satu kampung yang tidak dapat merelakan anak perempuannya untuk dinikahi seorang lelaki dewasa dari kampung lain. Seorang anak perempuan lain dengan sengaja memakan pasir untuk mengakhiri hidup karena tidak ingin memiliki status kawin piara. Dia masih ingin menimba ilmu di sekolah dengan teman-teman sebaya. Tindakan tadi akhirnya membuat sang ayah luluh dan mengabulkan permintaan sang anak perempuan. Teringat ketika menatap mata anak-anak perempuan yang beranjak remaja itu. Seolah tatapan yang memberitahukan dirinya ingin terus bersekolah. Mungkin ini berbeda dengan mereka yang masih anak-anak, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan masa depan.

100_0133Satu lagi mengenai anak-anak Buru yang haus pendidikan. Pelayanan untuk memberikan dan mendukung pendidikan tidak hanya dilakukan di satu kampung. Beberapa kampung di Buru Utara dan Selatan dirambah. Ada satu kampung yang baru pertama mengenal dengan alat tulis warna dan menggambar. Mereka pun sangat senang ketika kami menyediakan alat menggambar. Yang paling membuat kami sangat bersemangat ketika organisasi kami akan membangun sekolah yang lokasinya sangat jauh. Lokasi ditempuh 2 hingga 3 jam perjalanan dengan jalan kaki naik turun bukit. Anak-anak berjalan mengiringi kami yang nafasnya terengah-engah sedangkan mereka tetap bertenaga. Kaum remaja dan dewasa mengangkat satu hingga dua sak semen, ada juga material lain dengan tangan kosong. Masih ingat ketika kami sudah waktunya kembali ke kota, anak-anak mendampingi kami dengan penuh semangat.

Kumpulan pengalaman di Pulau Buru lain pernah ditulis bersama dengan teman-teman Jesuit Refugee Service (JRS) ke dalam buku berjudul ‘Seribu Impian Perempuan Buru’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s