Pencegahan dan Kebijakan Perlindungan Masyarakat Taiwan

Sejarah bencana yang panjang telah mendorong Taiwan untuk membangun sistem penanggulangan bencana. Taiwan atau dikenal juga sebagai Formosa merupakan negara dengan keindahan alam luar biasa. Negara yang beribu kota Taipei ini menduduki peringkat utama sebagai tempat kunjungan wisata dunia. Namun di belakang keindahan alam tersebut, Taiwan berhadapan dengan ancaman bahaya (hazard) geologi dan hidrometeorologi. Berbagai jenis bencana melanda Taiwan, seperti gempabumi, taifun, longsor, banjir, dan longsoran bebatuan atau debris flow.

taiwan 2
Foto: NCDR

Dari aspek bahaya geologi, Taiwan berpotensi gempabumi. Beberapa catatan gempabumi besar terjadi di negara dengan luas sekitar 36.000 km². Kurun waktu 20 tahun terakhir, gempabumi Ji Ji yang terjadi pada 21 September 1999 telah menewaskan lebih dari 2.000 jiwa. Gempabumi yang dikenal dengan 921 earthquake dan berkekuatan 7.3 SR mengakibatkan 51.000 bangunan roboh dan 53.000 rusak berat . Berikut sejarah gempabumi berkekuatan lebih dari 5 SR dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

 

Kejadian Daerah Terdampak Magnitude (SR) Korban Meninggal Rumah Rusak
5 Juni 1994 Yilan, Hualien 6.2 1 1
16 September 1994 Selat Taiwan 6.8 0 0
23 Februari 1995 Hualien 5.8 2 0
25 Juni 1995 Yilan, Hualien 6.5 1 6
17 Juli 1998 Nantou 6.2 5 0
21 September 1999 Nantou 7.3 2.415 51.711
17 Mei 2000 Nantou 5.3 3
11 Juni 2000 Nantou 6.7 2
31 Maret 2002 Nantou, Hualien 6.8 5
15 Mei 2002 Yilan 6.2 1
1 Mei 2004 Hualien 5.8 2
26 Desember 2006 Pingtung 7 2 3
19 Desember 2009 Hualien 6.8 0
4 Maret 2010 Kaohsiung 6.4 0
26 Februari 2012 Pingtung 6.4 0
Sumber: Central Weather Bureau
taiwan 1
Foto: NCDR

Bencana gempabumi yang lebih besar pernah terjadi pada 1935. Gempabumi Hsinchu berkekuatan 7.1 SR menewaskan lebih dari 3.000 jiwa di Taichung. Saat itu, 17.000 ribu bangunan rusak berat. Berdasarkan Central Weather Bureau, Kejadian kegempaan rata-rata per bulan dengan kekuatan di atas 3 SR sebanyak 190 kali. Dilihat tempat kejadian, wilayah tengah Taiwan rawan bahaya gempabumi. Hal tersebut karena proses alam tumbukan lempeng Eurasia dan Laut Filipina. Jutaan tahun lalu proses tumbukan inilah yang juga telah membentuk Pulau Taiwan yang berpopulasi aborigin 2%.

Dari aspek bahaya hidrometeorologi, Taiwan memiliki ancaman terhadap bahaya seperti kekeringan, banjir, taifun, longsor, dan debris flow. Pada Mei hingga Juni biasanya turun musim hujan atau biasa disebut plum rain dan Juli hingga Oktober sering terjadi taifun. Musim hujan ini dapat memicu terjadinya hujan sangat deras atau torrential rain yang dapat menyebabkan banjir. Namun demikian torrential rain juga memicu terjadinya longsor bebatuan atau debris flow. Debris flow merupakan longsoran bebatuan dari batu yang berukuran besar hingga kecil yang dipicu oleh hujan yang sangat deras.

Taifun Korban Meninggal Luka-luka Kerugian Pertanian

($ US Miliar)

Kerugian Konstruksi

($ US Miliar)

Total Kerugian

($ US Miliar)

Chebi 30 124 22.3 0.7 23.0
Trami 5 2.2 4.9 7.1
Toraji 214 188 235.7 170.6 406.4
Nari 104 265 126.5 56.7 183.1
Utor 1 6 2.9 7.6 10.5
Total 354 583 389.6 240.5 630.1
Sumber: National Science and Technology for Disaster Reduction

Ancaman begitu besar karena 70% wilayah Taiwan merupakan dataran tinggi yang terbagi atas tebing-tebing dengan kemiringan tajam serta pegunungan. Topografi dengan kemiringan tajam membuat longsoran bebatuan berakibat pada kerusakan yang sangat parah.

Masyarakat Taiwan mengalami bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor. Bencana tersebut dipicu oleh taifun, seperti taifun Nari (2001) dan Morakot (2009). Taiwan memang langganan taifun. Rata-rata taifun 3,6 kali melanda Taiwan setiap tahunnya. Tahun 2001, Taiwan mengalami 8 kali taifun, sedangkan tahun 2004 Taiwan tersapu 6 taifun. Berikut ini gambaran akibat dan dampak taifun yang dialami Taiwan.

Wilayah Peternakan terdampak Hewan Terdampak
Ternak Unggas
Pingtung 421 56.325 2.054.487
Kaohsiung 236 9.419 649.002
Tainan 593 68.435 3.209.360
Chiayi 153 22.512 1.206.887
Taitung 19 429 2.070
Total 1.422 157.120 7.121.806
Sumber: Soil and Water Conservation Bureau

Taifun Morakot yang terjadi tahun 2009 memaksa pemerintah untuk mengevakuasi lebih dari 24.000 jiwa. Taifun yang memicu longsor hingga 40 ha ini menelan korban ratusan jiwa. Tidak hanya korban manusia tetapi jutaan hewan mati (ternak, unggas, dan ikan) karena tersapu banjir. Total kerugian hingga Rp 6,7 triliun. Berikut ini data peternakan dan hewan terdampak di beberapa wilayah di Taiwan.

Taiwan sangat berkepentingan terhadap isu perubahan iklim. Ini karena erat kaitannya dengan bencana hidrometeorologi. Perubahan iklim dapat memicu dampak langsung seperti suhu yang lebih panas, peningkatan tinggi muka air laut, perubahan pola dan curah hujan, kejadian hujan ekstrim, dan taifun. Perubahan iklim dapat memicu juga dampak susulan seperti bencana longsoran.

 Pencegahan dan Kebijakan Perlindungan

Sejarah panjang bencana Taiwan telah mendorong strategi penanggulangan bencana. Berdasarkan laporan Bank Dunia (2005), Taiwan menduduki peringkat ke-4 dengan kategori ancaman bahaya pada area terpapar 73,1% dan penduduk terpapar 73,1%. Puluhan tahun Taiwan membangun sistem penanggulangan bencana. Penanggulangan bencana secara spesifik menekankan pada pencegahan dan kebijakan perlindungan masyarakat terhadap bencana.

Pengurangan Risiko Bencana (PRB) sebagai upaya pencegahan menjadi pengarusutamaan dalam menghadapi bencana. Pemerintah Taiwan memandang bahwa pencegahan sebagai bentuk strategi PRB dalam konteks struktural dan non struktural dapat memperkecil jumlah korban jiwa dan kerugian material. Pemerintah menyusun strategi penanggulangan bencana dengan menitikberatkan pada pencegahan dan kebijakan perlindungan masyarakat. Strategi tersebut tampak pada kelembagaan dan kebijakan, serta penganggaran.

Kelembagaan dan Kebijakan

Ditinjau dari kelembagaan, Pemerintah Taiwan menekankan pada pentingnya peran teknologi dalam mitigasi. Pemerintah Taiwan telah membagi secara jelas tentang kementerian/lembaga apa melakukan apa atau dengan kata lain peran dan tanggung jawab. Tiga kementerian/lembaga pemerintah utama yang bertanggung jawab atas potensi ancaman bahaya, di antaranya Kementerian Dalam Negeri untuk urusan gempabumi dan taifun, Kementerian Perekonomian untuk kekeringan dan banjir, Lembaga Pertanian untuk urusan longsor atau debris flow.

Sementara itu, pada tahun 1982 Dewan Sains Nasional mulai mempromosikan program besar mengenai penelitian terhadap pencegahan bencana. Program ini mendapatkan dukungan dari kementerian dan badan yang terkait dengan bencana sehingga pada 1997 mereka membangun program Sains dan Teknologi Nasional untuk Mitigasi Bencana. Prinsip pemikiran terhadap kebencanaan yang disepakati bersama bahwa mitigasi menjadi landasan penting terhadap perlindungan masyarakat Taiwan. Dewan ini kemudian meluncurkan program periode pertama pada kurun waktu 1999 – 2001 dan dilanjutkan 2002 – 2006

Untuk memastikan program ini berjalan dengan baik, pemerintah membentuk National Science and Technology Center for Disaster Reduction (NCDR) pada Juli 2003. Fungsi utamanya adalah dukungan teknis, implementasi aplikasi, dan promosi pengurangan risiko bencana (PRB). Organisasi yang dipimpin oleh Wei Sen Li sebagai Sekretaris Jenderal memastikan apa yang dikerjakan tersebut dapat memberikan perlindungan terhadap masyarakat.

Program ini sangat berhasil dalam membangun data terintegrasi dari berbagai kementerian dan badan terkait kebencanaan. Data-data tersebut sangat mendukung dalam langkah-langkah mitigasi dalam perlindungan terhadap bencana. Data-data terintegrasi bersumber dari analisis tingkat risiko, peringatan dini, prakiraan, sistem pencegahan dan respon darurat, dan sebagainya. Informasi peringatan dini dan langkah pencegahan dapat diakses oleh masyarakat melalui website pemerintah, short message service (SMS), media komersial, maupun media sosial. Media sosial, seperti facebook, sangat populer di antara masyarakat Taiwan sehingga media ini sangat signifikan dalam menginformasikan peringatan dini terhadap ancaman bencana.

NCDR memetakan kerentanan, antara lain pada dua aspek. Pertama, kerentanan fisik yang terkait dengan degradasi lingkungan, pemanfaatan lahan dan keberlanjutan lingkungan. Kedua, kerentanan sosial. Kerentanan ini dipicu oleh potensi risiko yang meningkat karena beberapa faktor, antara lain kepadatan penduduk 647 per km², urbanisasi yang cepat, perubahan struktur demografis, dan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Kondisi berdasarkan kenyataan geografis, sejarah bencana, dan kerentanan menempatkan strategi pencegahan dan perlindungan masyarakat sebagai misi penanggulangan bencana Taiwan.

Dalam mewujudkan strategi pencegahan dan perlindungan masyarakat, Taiwan melakukan banyak aksi pada penyusunan kebijakan, kelembagaan, investasi sains dan teknologi, dan pembangunan komunitas tangguh bencana. Pada saat respon darurat, kabinet atau Executive Yuan berperan dalam memimpin koordinasi antar kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan lain. Sementara pada saat kondisi normal, kementerian/lembaga terkait selalu memantau dan berbagi data atau pun informasi.

 Alokasi Anggaran

Secara konkret, Pemerintah di tingkat pusat menyiapkan alokasi anggaran untuk bencana sebesar 375 juta NTD, sedangkan anggaran untuk pemerintah di tingkat county, township dan district berbeda dari pos anggaran tersebut. Pemerintah Taiwan menyusun program jangka menengah dengan nama Disaster Prevention and Rescue Deep Plowing Program (DPRDPP) dengan durasi 2009 – 2013. Alokasi anggaran untuk program ini mencapai hingga 440 juta NTD.

Pemberian bantuan alokasi anggaran dari pemerintah pusat ke daerah sangat bergantung pada beberapa faktor. Salah satu faktor adalah upaya pemerintah daerah dalam membangun kerjasama dengan universitas dalam kerangka pencegahan. Di samping itu, ada beberapa kriteria khusus dalam penentuan prioritas penerimaan untuk masing-masing township. Township harus terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi dari NCDR dengan melihat frekuensi terkena dampak bencana, kondisi khusus, serta perubahan sosial dan lingkungan.

Keseriusan pemerintah sangat tinggi. Ini dibuktikan dengan persetujuan dari Executive Yuan untuk menganggarkan DPRDPP tahap kedua dengan alokasi anggaran lebih besar. Di bawah ini merupakan alokasi anggaran yang digunakan untuk beberapa kegiatan seperti:

  1. Analisis potensi bencana
  2. Peningkatan fasilitas pusat pengendali operasi
  3. Peningkatan mekanisme tanggap darurat
  4. Pendidikan, pelatihan, dan geladi lapang
  5. Peningkatan Sumber daya kesiapsiagaan

Investasi Sains dan Teknologi

Pemerintah Taiwan melakukan investasi yang sangat besar, khususnya untuk sains dan teknologi. Mereka mengembangkan program yang melibatkan sains dan teknologi, khususnya untuk mitigasi bencana, sejak 1998. Taiwan sangat mendukung pemutakhiran terhadap tiga aspek terkait sains dan teknologi, seperti peningkatan sumber daya manusia (man power), kajian ilmiah (research), teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology). Sumber daya manusia dengan standar tinggi dapat ditemui di NCDR di mana 80% pegawai berpendidikan doktor dan pascasarjana. Melalui sumber daya manusia yang handal, kajian-kajian ilmiah dapat dilakukan sehingga mereka mampu menangkap secara penuh berbagai aspek yang saling terkait, misalnya sosial, budaya, dan kondisi geografis.

Sains dan teknologi yang berupa sistem terintegrasi dengan berbagai data ini tidak hanya dimanfaatkan pada saat pra bencana tetapi juga pada saat bencana. Sebagai gambaran, sistem akan mengidentifikasi ancaman taifun yang akan membawa debit air yang ekstrim sehingga dapat berdampak banjir, tanah longsor, dan debris flow. Berikut ini perkembangan sistem penanggulangan bencana Taiwan:

Sistem mandiri Monitoring

–       cuaca

–       hidrologi

–       debris flow

2000

Sistem Pendukung untuk Bencana Tertentu (Decision Support System (DSS)

–       Cuaca

–       Banjir

–       Debris Flow

–       Lalu lintas

Langkah Terintegrasi 1992

Nation Geographic Information System (NGIS)

2002 – 2007

–       Emergency Communication

–       Emergency Management Information System

2009

–       Sharing Informasi

–       DSS untuk Pusat Pengendali Opearasi

GIS Desktop GIS 2000 – 2005

GIS GPS RS terintegrasi

 

2005 – 2010

GIS 3D Mobile

 

2011

GIS Cloud

IT Internet 2004 Web GIS       2008 Mobile       2010 App
Komunikasi 1989 DSL

1991 GSM         1999 3G                         2007 Smartphone                                                 2012 4G

Sumber: NCDR

Pada gambar di atas tampak strategi sains dan teknologi berkembang dari tahun ke tahun. Saat ini, jaringan komunikasi di Taiwan telah menggunakan 4G sehingga kecepatan pengiriman data sangat cepat. Selain itu, kita dapat mengamati perkembangan jaringan dan platform yang digunakan. Saat ini masyarakat Taiwan dapat mengakses informasi terkait penanggulangan bencana melalui smartphone dan gadget lain berbasis internet.

Teknologi informasi dan komunikasi menjadi media pendukung yang sangat ampuh dalam sistem penanggulangan bencana Taiwan. Mulai dari pemanfaatan data saat kondisi normal, early warning system, peringatan dini, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi (recovery), semua dibangun dengan sistem yang sangat canggih. Sebagai contohnya saat peringatan dini, masyarakat dapat mengakses berita melalui media sosial, seperti facebook, twitter, dan google. Masyarakat Taiwan merupakan pengguna tertinggi facebook di Asia. Namun demikian, Taiwan masih memiliki tantangan bagaimana end to end dari teknologi yang sangat canggih itu dapat benar-benar dipahami masyarakat sehingga mereka dapat terhindar dari bencana.

taiwan 3
Sumber: NCDR

Kemitraan

taiwan 5
Foto: NCDR

Penanggulangan bencana, khususnya pencegahan, tidak terlepas dari peran organisasi non pemerintah dan masyarakat sipil. Pemerintah telah membuka kerjasama kemitraan atau partnership dengan mereka. NCDR memberikan pelatihan kepada organisasi non pemerintah di tingkat lokal dan nasional. Kemudian LSM tersebut berkontribusi pada peningkatan kapasitas maupun penguatan sistem yang berujung pada pembangunan kapasitas penanggulangan bencana di masyarakat. Untuk mencapai tujuan itu, pemerintah daerah dan pemimpin masyarakat atau pun organisasi mendukung dan memimpin proses pembangunan kapasitas.

 

Pembangunan kapasitas juga dimaksudkan untuk membangun ketangguhan atau resilience komunitas. Pemerintah Taiwan memiliki empat element kunci, yaitu (1) kajian risiko dan kerentanan; (2) monitoring dan peringatan dini; (3) pengetahuan yang baik dan handal; (4) rencana kesiapsiagaan.

taiwan 4
Foto: NCDR

Kemitraan pemerintah dan organisasi non pemerintah diwujudkan dengan penyelenggaraan dialog, penilaian, pelatihan, dan geladi. Namun tidak hanya dengan membangun kemitraan dengan organisasi non pemerintah, tetapi Taiwan juga melakukan kerjasama dengan komunitas internasional. Pembangunan sistem berteknologi canggih dan peningkatan kapasitas masyarakat, Taiwan memiliki kerjasama dengan APEC: Emergency Preparedness Working Group, Asian Disaster Preparedness Center (ADPC), Asian Disaster Reduction Center (ADRC), Integrated Research on Disaster Risk (IRDR), START International, Pacific Disaster Center (PDC), dan lembaga-lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.

 

Advertisements

One thought on “Pencegahan dan Kebijakan Perlindungan Masyarakat Taiwan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s