#SiapUntukSelamat

Indonesia akan menyelenggarakan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional pada 26 April nanti. Ini akan menjadi momentum bersama untuk membudayakan latihan secara terpadu, terencana dan berkesinambungan. Melalui pendekatan ini diharapkan bahwa kesadaran kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terwujud.

Tidak mudah untuk mengubah perilaku warga dalam merespon setiap insiden. Seperti contoh, beberapa tahun lalu orang-orang di Kota Padang melakukan evakuasi secara panik setelah gempa terjadi di sekitar wilayah itu. Mereka merespon dengan cepat menuju ke tempat aman dengan kendaraan mereka masing-masing. Namun apa yang terjadi, justru kemacetan di jalan. Hal tersebut memang sangat wajar bahwa kekacauan terjadi pada fase panik.

Hal yang sama terjadi setelah gempabumi Yogyakarta pada 2006 lalu. Saat itu, orang-orang terpancing dengan isu tsunami dan arah yang dituju adalah ketinggian. Mereka pun dengan kendaran, motor dan mobil, secara masif menuju ke tempat tinggi. Akses jalan pun tertutup dengan ratusan kendaraan.

Cerita berbeda ketika Gunung Kelud meletus di Jawa Timur. Letusan eksplosif berlangsung tidak lama setelah status menjadi level 4. Masa krisis hingga insiden berdurasi sekitar 2 jam. Namun pada saat krisis tadi, 85.000 warga dapat melakukan evakuasi mandiri secara teratur. Mereka mengevakuasi melalui kendaraan baik motor, mobil, atau truk secara teratur tanpa harus membunyikan klakson. Tidak ada korban jiwa akibat letusan gunung Kelud saat itu.

Dari cerita di atas, kita mengetahui bagaimana orang-orang merespon pada saat berada di masa krisis. Mereka yang berada di tempat dan waktu berbeda tadi melakukan evakuasi. Namun mereka melakukan keputusan yang berbeda dalam proses evakuasi.

IMG-20170320-WA0003-2Keputusan yang berujung pada tindakan dipengaruhi tingkat situasi kesadaraan yang berbeda pada konteks krisis. Pada saat krisis kita mengetahui masalah dan mungkin kita juga fokus pada bahaya yang terjadi. Namun kita membutuhkan tingkat kesadaran bahwa ada beberapa risiko pada saat melakukan evakuasi. Pada konteks ini, perspesi warga terhadap risiko maupun bahaya mungkin sangat bermanfaat. Persepsi ini dapat terkait dengan pengalaman kita. Kita paling tidak dapat menduga apa yang akan terjadi. Di sisi lain, pengalaman melalui latihan secara terpadu, terencana dan berkesinambungan dapat membangun kesadaraan dan kewaspadaan.

Kesadaran tadi dapat diasah melalui keterampilan, seperti:

  • Mengidentifikasi masalah atau potensi masalah
  • Mengenali kebutuhan untuk tindakan
  • Tidak mengabaikan kesenjangan informasi, lebih pada menganalisis kesenjangan sebelum bertindak
  • Mencari dan menyediakan informasi sebelum bertindak
  • Menilai kapasitas diri sendiri
  • Mengidentifikasi komponen dalam kebencanaan, seperti risiko, ancaman atau kerentanan.

Ayo, berpartisipasi dan sukseskan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional! #SiapUntukSelamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s