Mengobrol dengan Orang di Sekitar Kita

Apakah kita pernah melewatkan satu hari tanpa berbicara dengan seseorang di sekitar kita? Setiap hari kita tentu bertemu dengan individu-individu dan mengobrol dengan mereka. Kita dapat menghitung berapa individu yang ditemui dan mengobrol dengan beragam topik. Ketika obrolan terjadi, kita mungkin mendapatkan kualitas tingkat obrolan yang berbeda-beda. Mulai dari obrolan ringan hingga yang membuat kita larut dalam rasa empati atau pemikiran yang kritis.

Memang menarik ketika obrolan ini tidak sekedar obrolan ngalor ngidul. Meskipun ringan, pemikiran kita terkadang terbuka terhadap cara pandang atau perspektif lawan bicara. Mungkin dari situ kemudian muncul gagasan dan nilai hidup yang baru.

Ini merupakan momen yang tidak datang kedua kalinya ketika bertemu dengan individu-individu yang memiliki gagasan dan nilai hidup yang menarik menurut kita. Dan itu pasti di luar imajinasi dan perkiraan sehingga memperkaya ‘nilai’ pribadi.

Masih terlintas di benak pikiran tentang obrolan dengan orang-orang yang memiliki gagasan dan nilai hidup yang berbeda-beda. Merefleksikan obrolan yang telah berlangsung dapat menjadi motivasi, mungkin menjadi lebih bersemangat, lebih merasa beruntung dengan kehidupan saat ini, lebih berpikir untuk mengembangkan gagasan, atau mengkoreksi nilai hidup yang dijalani hingga detik ini.

Kala itu, sebuah ungkapan if there is a will, there will be a way dari seorang teman Nathalie Miebach, seniman instalasi kontemporer yang tinggal di Boston, Amerika Serikat. Ungkapan itu tercetus pada suatu obrolan. Itu selalu ada di dalam pikiran dan pendorong apabila menemui rintangan. Tidak hanya itu, obrolan kami tentang kerja sosial untuk anak-anak miskin kota memunculkan panggilan hati untuk terjun di bidang kemanusiaan. Lain lagi, nilai hidup we have to do the best at our best dari Said Faisal. Sebuah ungkapan yang menarik perhatian untuk memotivasi diri bekerja lebih giat dan mengejar kesempurnaan.

Pengalaman mengobrol juga terjadi dengan mereka yang hidupnya menderita, seperti para tunawisma dengan dinamika kehidupan yang sulit, pengungsi Timor Timur yang harus meninggalkan tanah kelahiran, para perempuan yang terjun sebagai pekerja seks karena ketidakadilan masyarakat, dan masih banyak lagi.

Jujur mengakui, setelah mendengar kisah atau obrolan yang menuturkan masa lalu menjadikan kita merasa bersyukur dengan kehidupan. Setiap individu memiliki cerita unik dan ini akan menggerakan hati dan pikiran kita.

Bersyukur dan senang mendapatkan kesempatan dalam hidup untuk mengobrol dengan mereka yang memiliki latar belakang yang unik, seperti pekerja seks, tunawisma, anak jalanan, pengungsi, teman kantor, pejabat, maupun dengan orang-orang yang memiliki berbagai latar belakang profesi. Kita dapat memetik sebuah kualitas nilai, baik gagasan atau pun nilai hidup. Tentu, kita yang menentukan apakah gagasan atau nilai hidup itu dapat kita gunakan untuk merefleksikan hidup kita. Pada akhirnya ini dapat menjadi parameter terhadap kualitas hidup kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s