Peneliti Jepang Mampu Prediksi Gempabumi

Kita mengetahui bahwa Jepang merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana gempabumi. Pada 11 Maret 2011 lalu, gempabumi dengan magnitude 9 memicu tsunami yang menerjang beberapa wilayah pesisir. Gempabumi yang dikenal dengan Great East Japan Earthquake ini mengakibatkan 20.000 warga tewas dan kerugian hingga 16,9 trilyun yen.

Jepang masih menghadapi potensi besar lain dengan kemungkian terjadi hingga 80%. Selama 1400 tahun, gempa-gempa besar yang pergerakan Nankai Trough Fault terjadi pada siklus waktu 100 – 200 tahun. Sekarang ini sudah terhitung 70 tahun dan ada kemungkinan gempa besar terjadi pada 30 tahun mendatang.

Pihak peneliti dari Earthquake Prediction Research Center (EPRC) Jepang menyebutkan bahwa potensi gempa tadi dapat menyebabkan tewasnya 323.000 orang yang berada di 30 prefektur. Gempabumi yang diprediksi ini disebabkan oleh pergerakan lempeng, Nankai Trough Fault. Para peneliti EPRC telah memproyeksikan pola tsunami seperti waktu menerjang daratan dan ketinggian gelombang.

eprc 2
Sumber: EPRC

Pascagempa Tohoku atau Great East Japan Earthquake, para peneliti Jepang terus berupaya untuk melakukan penelitian deteksi dini potensi gempa. Penelitian mereka berbasis pada indikasi gempa-gempa yang pernah tejadi dan pergerakan lempeng. Berdasarkan hasil analysis, sebetulnya para peneliti EPRC ingin menunjukkan kepada pihak pemerintah bahwa potensi gempa besar akan terjadi segera. Namun, gempa dahsyat pun terjadi lebih dahulu sebelum pertemuan dengan pemerintah berlangsung.

Di bawah ini rangkaian pergerakan lempeng tektonik yang berhasil dicatat 46 hari sebelum Great East Japan Earthquake terjadi.

eprc 1
Sumber: EPRC

Para peneliti EPRC menggunakan beberapa jenis data untuk menganalisis potensi gempa, seperti data gempa yang pernah terekam, sumber air tanah, produksi susu dari hewan ternak, gelombang elektromagnetik. Di samping itu, EPRC menggunakan analisis pergerakan lempeng dengan menggunakan data citra radar atau synthetic aperture radar (SAR). Mereka menggunakan radar jenis ini karena dapat memotret secara luas dan mendukung kelemahan dari GPS based control station. Peneliti ini dapat mengakses data dari satelit dan sensor GPS milik Amerika Serikat, Eropa, Rusia dan Jepang.

Semua data yang diperoleh tadi diproses menggunakan teknologi artificial intelligence. Superkomputer dan teknologi dari IBM digunakan untuk membantu proses analisis data yang kemudian diharapkan dapat memberikan informasi yang diterima setiap orang dengan smartphone. Pada akhirnya dapat terbentuk ISACO atau Internasional Surface Artificial Intelligence Communicator. Kita nantinya dapat mengetahui 1 hari sebelum terjadi gempa bermagnitude 5 atau lebih melalui pesan yang dikirimkan melalui ISACO-mail, sebuah program otomatis pengirim pesan.

Melalui teknologi yang digunakan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kurun waktu 3 tahun (1 Februari 2013 hingga 31 Januari 2016) tercatat gempa 38 kali dengan kekuatan magnitude 6. Presisi data yang terdeteksi gempa 31 kali dengan prosentase ketepatan prediksi hingga 82%, sedangkan gempa dengan magnitude 5 – 5,9 yang terjadi 192 kali dan presisi yang terdeteksi 148 atau ketepatan prediksi 77%. EPRC telah mengirimkan hasil analisis mingguan kepada 500 perusahaan, pemerintah daerah setempat dan kedutaan besar sejak Februari 2013.

Dengan capaian teknologi yang ada ini, kita mengharapkan potensi gempabumi di Indonesia dapat juga diprediksi. Teknologi ini sangat mendukung dalam upaya peringatan dini. Namun demikian, pengetahuan terhadap risiko bencana dan kesiapsiagaan sebagai faktor utama untuk menyelamatkan diri kita, khususnya ancaman gempabumi dan tsunami.

eprc 4
Sumber: EPRC
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s