Tantangan Menjadi Seorang Minimalis

Beberapa bulan lalu, saya melihat sebuah tayangan di salah satu televisi swasta. Tayangan itu mengenai seseorang yang telah menjalani hidup minimalis. Pada tayangan itu, sosok sang minimalis menggambarkan bahwa dirinya mulai menyeleksi barang-barang yang dimiliki. Mulai dari ruang tamu yang tidak tampak banyak hiasan, barang-barang pribadi yang dikenakan, seperti baju dan sepatu, hingga peralatan dapur. Lelaki yang sudah berkeluarga ini mengatakan hidupnya lebih ringan setelah menjalani gaya hidup minimalis. Contoh hal kecil, dia tidak harus berpikir keras ketika akan memilih baju yang cocok untuk dikenakan atau membeli baju baru yang mungkin mengikuti gaya fashion terkini atau tertarik untuk membeli gadget keluaran baru dengan merek ternama. Proses minimalis pun ditunjukkan bagaimana dia memiliki ruangan transit, sebuah tempat untuk menempatkan barang-barang untuk dipertimbangkan dan dipilih, apakah barang ini tetap dipertahankan atau dihibahkan ke orang lain. Yang sangat mengagumkan ketika anggota keluarga yang lain, istri dan anak-anak, tampak menjalankan gaya hidup serupa.

Saya menjadi tertarik dengan tayangan yang hanya berlangsung singkat. Namun, tayangan membekas dalam benak pikiran. Saya mengakui hingga kini terus bergejolak di dalam pikiran untuk menjalani hidup minimalis. Proses yang masih berlangsung untuk kemudian muncul sebuah keputusan apakah apakah tertarik menjalani hidup minimalis atau tidak. Memang sangat sulit ketika kita sudah memiliki gaya hidup yang sudah dijalani puluhan tahun dan seketika berubah. Sebuah tantangan menentukan apakah sesuatu itu sebagai kebutuhan atau keinganan. Sebagai referensi, berikut pengertian mengenai kata ‘minimalist’ dan ‘minimalism.’

Minimalists like to say that they’re living more meaningfully, more deliberately, that getting rid of most material possessions in their lives allows them to focus on what’s important: friends, hobbies, travel, experiences.

Minimalism is a lifestyle choice that encourages the elimination of excess in one’s life. The move to live simply, and with as little as possible is an aim for freedom from the pressures of consumerism and materialism. Once you get yourself into the minimalist mindset, you can start living like a minimalist by purging your excess belongings. On a larger scale, you can consider paring down your furniture, moving to a smaller home, or getting rid of your vehicle. The minimalist way of life does not have specific rules, and it is flexible enough to suit you regardless of your circumstances.

Saya berpikir gaya hidup minimalis sangat menarik. Pada salah satu kesempatan kita tidak harus berpikir panjang untuk memilih koleksi baju yang kita miliki. Atau, kita melepaskan keterikatan terhadap barang atau sesuatu yang ingin kita miliki. Keterikatan dapat berarti kita tidak dapat lepas dari suatu barang atau perasaan kecewa apabila barang rusak atau hilang. Kita kadang kecewa begitu dalam ketika barang yang kita miliki rusak atau bahkan lecet karena benturan yang tidak disengaja, seperti saat baru saja membeli telepon genggam dengan harga yang lumayan mahal. Atau yang sering saya alami ketika memiliki baju baru dan itu sangat cocok kemudian baju tersebut cacat setelah tercuci bersamaan dengan baju lainnya. Kita dapat juga menghemat penghasilan untuk sesuatu yang lebih berharga, seperti investasi untuk pendidikan anak-anak, berlibur dengan keluarga atau perbaikan rumah karena memang harus diperbaiki.

taiwan

Tantangan untuk membeli barang yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan selalu muncul ketika berjalan-jalan di mall bersama keluarga. Setiap kali melihat koleksi pakaian selalu tergoda namun sekarang selalu ingat pada sebuah pertimbangan matang. Demikian juga saat melirik pada barang-barang elektronik yang dipajang pada display toko atau iklan di beragam media. Memang sederet iklan sering memancing mata untuk kemudian memicu pikiran kita untuk membeli. Pikirku, hebat juga si pembuat iklan dapat membuat iklan semenarik itu.

Koleksi pakaian di lemari sudah sangat banyak hingga puluhan. Sangat lucu, terkadang untuk memilih sebuah kaos untuk dikenakan di rumah saja memerlukan waktu. Satu hal yang menggembirakan, saya berhasil memilih puluhan kaos untuk menuju ruang transit dan sudah yakin untuk segera dihibahkan. Namun, saya masih memiliki pekerjaan rumah untuk memilih lagi puluhan pakaian yang akan dihibahkan. Tidak hanya pakaian tetapi barang-barang lain yang sering membuat pusing karena beberapa spot ruangan tampak seperti “gudang.” Kalau kita hanya memiliki sedikit baju, mungkin yang terlintas bahwa orang-orang di sekitar kita berpikir kita tidak memiliki banyak baju karena alasan yang mungkin kita tidak ingin dengar.

Paling tidak, pencapaian hingga kini merupakan sebuah tahapan atau proses untuk mendefinisikan gaya hidup minimalis sesuai dengan kemampuan diri. Perlu upaya keras untuk melangkah pada tahapan selanjutnya. Sepertinya, ini mirip ketika proses berhenti merokok. Sebuah grafik turun-naik hingga sampai pada suatu tahapan seperti yang dimimpikan, yaitu tidak lagi merokok. Apakah di antara Anda, ada yang menjalani gaya hidup minimalis?

Advertisements

One thought on “Tantangan Menjadi Seorang Minimalis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s