Tanah Longsor, Bencana Mematikan di Indonesia

Kita dapat membayangkan ketika longsor terjadi di suatu wilayah; suara gemuruh lajunya material tanah, pohon dan bebatuan saling bergesekan. Belum lagi udara yang berhembus tenang tiba-tiba bersuara bercampur dengan gerakan longsor. Kemudian ketika longsoran bertemu dengan penghalang di depan yang juga menghasilkan bunyi dentuman.

Masih terlintas di ingatan kita, peristiwa longsor Ponorogo, tepatnya di Dusun Tangkil, Danaran, Ponorogo, Jawa Timur pada awal April lalu (1/4/2017). Masyarakat yang sudah mengetahui potensi longsor tidak luput dari bencana. Malam mereka mengungsi, pagi hari mereka bekerja di kebun. Namun, beberapa dari mereka pun tak mampu menghindar dari amukan longsoran yang cukup luas hingga menimbun puluhan warga setempat. Kecepatan longsoran pun lebih cepat dibandingkan upaya menghindar dari material longsor. Longsor susulan terus berpotensi seiring potensi hujan dengan intensitas tinggi.

longsor 2

Foto: BNPB

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2017, kejadian tanah longsor hingga akhir Maret tahun ini berjumlah 251. Bencana ini mengakibatkan 20 orang meninggal dunia dan hilang, 991 rumah rusak dengan kategori sedang hingga berat, serta 8.649 orang terdampak.

Sementara itu pada periode 2012 – 2017, sebanyak 2.581 kejadian tanah longsor melanda berbagai wilayah di Indonesia. Total korban meninggal atau hilang berjumlah 1.061. Sebuah fakta yang menunjukkan bahwa tanah longsor bencana mematikan di Indonesia. BNPB mencatat bahwa dari sederet kejadian tersebut, bencana tanah longsor sering terjadi pada Januari hingga Maret dimana puncak musim hujan berlangsung. Tanah longsor yang tergolong sebagai bencana hidro-meteorologi berpotensi terjadi pada 274 kabupaten dan kota di sepanjang Bukit Barisan di Sumatera, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sebanyak 40,9 juta jiwa terpapar potensi bahaya tanah longsor dengan kategori sedang hingga tinggi.

longsor 3
Sumber: BNPB

Ancaman tanah longsor sebetulnya dapat dicegah dan dihindari. Beberapa catatan dari BNPB mengenai pemicu terjadinya bahaya tanah longsor sebagai berikut:

  • Laju degradasi lingkungan jauh lebih cepat dari upaya pemulihan. Laju kerusakan hutan rata-rata 750.000 sampai dengan 1 juta hektar/tahun, sedangkan kemampuan pemerintah untuk melakukan rehabilitasi hutan dan lahan rata-rata maksimum 250.000 hektar/tahun.
  • Fungsi sungai yang cenderung menurun/daerah aliran sungai (DAS) kritis. Luas lahan kritis di Indonesia sekitar 24,3 juta hektar.
  • Meningkatnya kebutuhan lahan baik untuk keperluan pertanian, industri maupun permukiman yang tidak diimbangi dengan pengaturan tata ruang yang berbasis bencana, termasuk urbanisasi.
  • Perilaku masyarakat yang masih belum memperhatikan lingkungan (menjadikan sungai tempat pembuangan sampah, penebangan liar).
  • Pemanasan global, perubahan iklim dan cuaca ekstrem telah memperparah dampak bencana.
  • Kemampuan mitigasi bencana secara umum masih belum memadai, baik mitigasi struktural maupun non struktural.

Menyikapi ancaman di atas, berbagai pihak seperti pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan mengupayakan langkah-langkah pengurangan risiko bencana. Satu catatan bahwa relokasi ke tempat yang aman menjadi salah satu solusi namun upaya ini selalu terkendala dengan akses ketersediaan tanah maupun penyediaan infrastruktur pendukung. Belum lagi mereka memiliki keterikatan tempat tinggal, budaya, maupun terhadap sosial.

Donorati_Sumber BNPB
Foto: BNPB

Implementasi tata ruang menjadi kunci untuk mengurangi risiko bahaya tanah longsor. Otoritas pemerintah di bidang penanggulangan bencana merekomendasikan sterilisasi kawasan pada daerah rawan longsor yang belum berkembang menjadi pemukiman. Perlu moratorium pembangunan pemukiman di daerah rawan longsor dan sebaiknya digunakan sebagai kawasan lindung. Di sisi lain, upaya reboisasi, penghijauan, konservasi tanah dan air dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan.

Di samping itu, warga yang menghuni kawasan rawan bahaya tanah longsor perlu mendapatkan pengetahuan dan upaya mitigasi, baik struktural maupun non struktural. Saat ini sistem peringatan dini tanah longsor telah diterapkan di beberapa wilayah, namun salah satu kendala adalah terbatasnya produksi perangkat peringatan dini sebagai bagian dari sistem tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s