Uncategorized

Gunung Marapi

Gunung Marapi yang terletak di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia, ini baru saja meletus beberapa waktu lalu. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat dua kali letusan pada Minggu lalu, 4 Juni 2017. Gunung dengan ketinggian 2.891 meter dpl tersebut menyemburkan kolom abu tebal dengan tekanan sedang. Tinggi kolom terukur hingga ketinggian 300 meter. Gunung Marapi termasuk gunungapi paling aktif di Sumatera. PVMBG mencatat letusan gunung ini sejak 1807. Gunung dengan sebutan lain ‘Merapi’ atau ‘Berapi’ bertipe strato, atau terbentuk secara berlapis-lapis hingga membentuk kerucut.

marapi 1

Foto: vsi.esdm.go.id

Pada letusan terakhir, PVMBG merekomendasikan tidak ada aktivitas masyarakat di dalam radius 3 km. Karakter letusan gunung tidak sampai menyebabkan pengungsian dari masyarakat setempat. Melihat sejarah letusan, masyarakat mengetahui betul potensi dan karakter erupsi Gunung Marapi. Namun memang perlu diwaspadai bagi para pengunjung atau pendaki yang memasuki kawasan gunung dan tidak mengetahui karakter letusan maupun status gunung tersebut. Beberapa pendaki berada di gunung ketika erupsi terjadi pada minggu lalu (4/6/2017).

Sejak 2004 hingga kini, Gunung Marapi yang masuk di wilayah administratif Kabupaten Agam dan Kabupaten Batusangkar berstatus level II. Status ini menunjukkan bahwa gunungapi mengalami peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lain.

Peta kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Marapi yang dirilis PVMBG pada 2006 menyebutkan KRB III atau kawasan yang berada dalam parameter terdekat dari kawah seluas 33,3 km². KRB III merekomendasikan tidak diperbolehkan untuk hunian tetap dan penggunaan bersifat komersial. Kawasan ini meliputi daerah puncak dan sekitarnya dengan radius 3 km dari pusat erupsi, termasuk kaldera Bancah.

marapi 2

Sumber: vsi.esdm.go.id

Sementara itu, pada KRB II dengan luas 120,6 km² berpotensi terpapar aliran masa berupa awan panas, aliran lava, guguran batu serta material lontaran dan hujan abu lebat. Berdasarkan data penduduk pada 1999, lebih dari 15.000 jiwa berada di kawasan ini; sedangkan pada KRB I, lebih dari 19.000 jiwa berpotensi terpapar aliran lahar dan hujan abu serta lontaran batu (pijar). Dua kabupaten yang berpotensi terpapar tersebut yaitu Padang Panjang dan Tanah Datar.

Parameter Gunungapi di Indonesia

Gunung Marapi merupakan salah satu dari 127 gunungapi aktif di Indonesia. Gunung ini juga salah satu gunung berstatus level II dari 17 gunungapi yang teridentifikasi pada level tersebut. PVMBG mencatat hanya Gunungapi Sinabung berstatus level IV, atau masih tinggi aktivitas vulkaniknya. Dari sejumlah gunungapi yang berada di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat penduduk terpapar potensi gunungapi dengan kategori sedang hingga tinggi berjumlah 3,5 juta jiwa yang tersebar di 75 kabupaten dan kota.

Terkait dengan sejumlah gunungapi tersebut, PVMBG memiliki beberapa parameter dalam merespon keberadaan dan aktivitas gunungapi, seperti kawasan rawan bencana (KRB), tipe maupun status aktivitas.

KRB III merupakan kawasan yang sering terlanda awan panas, aliran lava, lontaran bom vulkanik. Pada kawasan ini, siapa pun tidak direkomendasikan untuk membuat hunian tetap dan memanfaatkan wilayah untuk kepentingan komersial. Otoritas setempat memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti rekomendasi dari pihak PVMBG.

KRB II merupakan kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, mungkin aliran lava, lontaran batu, guguran, hujan abu lebat, umumnya menempati lereng dan kaki gunungapi. Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu kawasan rawan bencana terhadap aliran masa berupa awan panas, aliran lava, guguran batu, meliputi lembah-lembah sungai yang berhulu di sekitar puncak dan dapat mencapai radius 10 km dari pusat erupsi, dan kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan jatuhan seperti lontaran batu (pijar), hujan abu lebat. Daerah ini meliputi radius 5 km dari pusat erupsi yang umumnya hutan alam dan hutan lindung.

KRB I merupakan kawasan yang berpotensi terlanda lahar atau banjir lahar. Apabila terjadi letusan membesar, kawasan ini berpotensi tertimpa material jatuhan berupa hujan abu lebat dan lontaran batu (pijar). Kawasan terbagi menjadi kawasan rawan aliran lahar atau banjir dan rawan jatuhan berupa hujan abu tanpa memperhatikan arah angin dan kemungkinan terkena lontaran batu (pijar). Pada kawasan lahar atau banjir, khususnya kawasan yang terletak di sepanjang sungai atau di dekat lembah atau bagian hilir sungaiyang berhulu di daerah puncak.

Parameter lain adalah pengkategorian gunungapi menjadi tiga tipe, A – B – C. Tipe A merupakan gunungapi yang pernah mengalami erupsi magmatic sesudah tahun 1600. Tipe B merupakan gunungapi yang sesudah tahun 1600 belum lagi erupsi magmatic, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara; sedangkan Tipe C merupakan gunungapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/fumarola pada tingkat lemah. Fumarola merupakan gas dan uap di daerah gunungapi yang membubung dengan kekuatan besar atau kecil yang disertai suara gemuruh dari dalam kawah, lereng atau kaki gunungapi.

Sementara itu, status aktivitas gunungapi mengacu pada empat tingkatan atau level, yaitu level I, II, III, dan IV. Level I menjelaskan bahwa aktivitas gunungapi, berdasarkan pengamatan hasil visual, kegempaan, dan gejala vulkanik lain, tidak memperlihatkan adanya kelainan.

Level II mengacu pada peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lain.

Level III mengacu pada peningkatan semakin nyata hasil pengamatan visual atau pemeriksaan kawah, kegempaan dan metode lain saling mendukung. Berdasarkan analisis, perubahan kegiatan cenderung diikuti letusan.

Level IV merupakan tingkatan yang menunjukkan jelang letusan utama, letusan awal mulai terjadi berupa abu atau asap. Berdasarkan analisis data pengamatan, segera akan diikuti letusan utama.

 

Sumber:

Buku Baseline Kegunungapian Indonesia (2012)

Laman http://www.vsi.esdm.go.id

Advertisements

2 replies »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s