Uncategorized

Siap Siaga Pascagempa Poso di Wilayah Sulawesi

Mendengar berita gempa bumi jelang akhir Mei 2017 lalu sangat membuat diri bertanya-tanya. Dengan beberapa parameter seperti kekuatan gempa di atas magnitudo 5, lokasi dan kedalaman, gempa kali ini sangat besar. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi magnitudo 6,6 dengan kedalaman 11 km dan berpusat di darat 38 km Barat Laut Poso, Sulawesi Tengah, terjadi pada Senin (29/5/2017). Dalam siaran rilis, BMKG menyebutkan 12 kali gempa susulan dengan 3 gempa yang bermagnitudo di atas 5.

Tidak memiliki referensi sama sekali terkait kondisi gempa di wilayah ini, berita dan informasi pun dicari dari beberapa sumber.  Sebuah artikel yang ditulis Ahmad Arif di harian Kompas (31/5/2017) dengan judul Waspadai Gempa Besar di Sulawesi membuka pengetahuan terkait konteks potensi gempa di wilayah Sulawesi. Di dalam artikelnya, Peta Sumber Gempa Nasional terbaru 2017 menyebutkan 48 sesar atau sumber gempa di Pulau Sulawesi. Peta yang disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional mengalami perubahan yang sebelumnya mengidentifkasi 12 sumber gempa pada peta gempa 2010.

poso 2

Sumber: Badan Geologi

Gempa yang terjadi pada akhir bulan lalu (29/5) telah mengakibatkan sejumlah kerusakan dan korban luka-luka. Hingga 1 Juni 2017, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Poso mencatat 349 bangunan rusak, di antaranya 168 rumah rusak berat. Sementara, korban luka berat berjumlah 4 orang dan luka ringan 21 orang.

Menurut BMKG, dampak gempa berdasarkan analisis tingkat guncangan atau shake map menunjukkan beberapa tingkatan dampak di wilayah Sulawesi Tengah, seperti III – V MMI di Poso, Loeo, Palu, Kasongan dan Toli-Toli. Wilayah Palopo, Masamba dan Balikpapan pada tingkatan II MMI. Penyebab gempa ini adalah aktivitas tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) di Zona Palolo Graben. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami karena episenter berada di daratan.

MMI atau Modified Mercalli Intensity atau skala Mercalli merupakan satuan ukur kekuatan gempa bumi yang disimbolkan dengan angka romawi. Semakin tinggi nilai MMI, misalnya IX-XII mengindikasikan gempa menyebabkan sebagian besar dinding bangunan permanen roboh dan struktur bangunan mengalami kerusakan berat. BMKG mendefinisikan secara sederhana tingkat MMI tersebut dengan ‘kerusakan berat.’

Dibandingkan dengan insiden gempa di zona tersebut, wilayah Sulawesi memiliki sesar yang lebih besar, yaitu Sesar Palu-Koro. Menurut Tim Ekspedisi Palu-Koro, gempa di poso tersebut tidak mengagetkan karena wilayah Sulawesi dilalui sesar besar aktif. Melihat peta sumber gempa di Sulawesi 2017, banyak titik dengan potensi magnitude di atas 6. Dalam artikel Kompas (31/5/2017), Sesar Palu-Koro disebutkan sebagai sesar darat terpanjang kedua di Indonesia, sekitar 250 km, setelah sesar besar Sumatera. Sesar Palu-Koro merupakan utama di Sulawesi Tengah, memanjang dari arah utara ke selatan, mulai dari Donggala di ujung Teluk Palu hingga Teluk Bone.

Tim Ekpedisi Palu-Koro menuliskan bahwa berdasarkan kajian paleoseismologi yang dilakukan oleh M.R. Daryono, siklus kegempaan pada sesar Palu-Koro 130 tahun. Tercatat dua gempa besar yaitu pada 1907 dan 1909. Gempa besar digambarkan dengan jatuhnya buah kelapa yang masih muda dari pohonnya. Menurut rilis dari tim ini, tahun-tahun ini merupakan siklus 130 tahun dari masa aktif Sesar Palu-Koro. Dalam Peta Sumber Gempa di Sulawesi 2017, potensi kekuatan gempa di sesar ini mencapai magnitude 6,8. Aktivitas sesar Palu-Koro cukup intensif dengan seringnya gempa bumi seperti gempa bumi Donggala (1927), gempa bumi Bora (1938), gempa bumi Tambu (1968), gempa bumi Lawe (1985), Gempa bumi Palolo (2005) (Marjiyono, dkk, 2013).

Sadar Bencana

Potensi bahaya gempa bumi di wilayah Sulawesi ini sangat nyata. Meskipun diakui, ahli gempa dari LIPI Danny Hilman Natawidjaya sulit untuk mengetahui segmen mana di jalur gempa yang dapat memicu gempa besar dalam waktu dekat (Kompas, 31/5/2017). Belum lagi dari kejadian gempa Poso lalu, warga tidak mengetahui potensi bencana dari sesar aktif. Pemahaman mengenai ancaman dan risiko perlu diberikan kepada warga di wilayah ini.

Data BNPB dan BPS terkait dengan jumlah penduduk terpapar potensi bahaya gempa bumi kategori kelas sedang hingga tinggi di Sulawesi Tengah, dengan menggunakan data Sensus Penduduk 2010, berjumlah 2.525.640 jiwa atau sekitar 95,85%. Dari jumlah tersebut, sekitar 436,697 atau 5,44% merupakan penduduk terpapar kelompok rentan. Sementara itu, dilihat pada wilayah terpapar dengan potensi bahaya gempa bumi dengan kategori kelas tinggi mencapai 877,986 ha atau 14,35%, dan kategori sedang 5.015.319 ha atau 81,95%.

poso 3

Sumber: Badan Geologi

Perlu upaya besar untuk berbagi pengetahuan sebagai upaya edukasi dan kampanye budaya sadar bencana di tengah-tengah masyarakat Sulawesi Tengah. Tentu ini sebuah proses panjang dan perlu upaya bersama dalam membangun budaya sadar bencana. Belajar dari gempa bumi besar yang meluluhlantakkan Kota Kobe di Jepang pada 1995 atau dikenal sebagai Great Hanshin Awaji, persentase korban selamat karena upaya diri sendiri sebesar 35%. Persentase tersebut paling tinggi dibandingkan faktor lain, seperti korban selamat karena anggota keluarga, teman, tetangga dan pertolongan tim SAR. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan, pemahaman maupun keterampilan menjadi salah satu faktor penting bagi warga untuk merespon bahaya gempa bumi.

Di sisi lain, upaya konkret terkait dengan faktor bangunan juga sangat penting. Korban tewas pascagempa banyak disebabkan karena reruntuhan bangunan dan tidak karena peristiwa gempa. Badan Geologi memberikan rekomendasi terkait dengan keamanan bangunan pada wilayah yang rawan gempa bumi. Berikut ini beberapa rekomendasi, khususnya pascagempa di Poso, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu:

  1. Melakukan relokasi pada rumah penduduk yang terlanda minor surface rupture yang terdapat di RT 7, Dusun 3, Desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara.
  2. Bagi masyarakat yang rumahnya terletak pada zona likuifaksi di wilayah RT 06 dan RT 07, Dusun 3, Desa Wuasa, dapat membangun kembali rumahnya dengan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempabumi atau membuat rumah panggung berbahan kayu.
  3. Bangunan vital, strategis dan mengundang konsentrasi banyak orang agar dibangun mengikuti kaidah – kaidah bangunan tahan gempa bumi.
  4. Hindari membangun pada tanah rawa, sawah dan tanah urug yang tidak memenuhi persyaratan teknis, karena rawan terhadap goncangan gempa bumi.
  5. Hindari membangun pada bagian bawah, dan lereng terjal yang telah mengalami pelapukan dan kondisi tanahnya gembur karena akan berpotensi terjadinya gerakan tanah/ longsor bila digoncang gempa bumi.
poso 1

Sumber: BMKG

Referensi:

Advertisements

1 reply »

  1. I see you don’t monetize your website, don’t waste your traffic,
    you can earn additional bucks every month because
    you’ve got hi quality content. If you want to know how to make extra bucks,
    search for: Boorfe’s tips best adsense alternative

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s