Ngaseri

Sebuah mimpi yang tidak akan pernah terwujud; pertemuan kali kedua dengan Ngaseri, seorang camat di Kabupaten Kediri. Ngaseri merupakan sosok yang hangat dan rendah hati terhadap orang-orang di sekelilingnya. Teringat pertemuan pada tiga tahun lalu dan mendengar kisah dari beberapa sumber mengenai kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Sang Camat. Kisah tersebut mengenai evakuasi puluhan ribu warga dari letusan dahsyat Gunung Kelud pada 2014. Kala itu, suasana krisis berlangsung jelang erupsi. Perintah untuk segera mengungsi yang terdengar dari radio komunikasi ditujukan untuk warga di wilayahnya. Sekitar 86.000 warga sekitar Kelud mengungsi secara mandiri dengan tertib untuk meninggalkan zona merah. Ngaseri memastikan semua warga mengungsi dan dia menjadi yang terakhir untuk meninggalkan area bahaya erupsi Kelud.

volcanodiscovery
Foto: discovery.com

Gunung Kelud yang berlokasi di antara dua kabupaten di Provinsi Jawa Timur meletus eksplosif pada 13 Februari 2014. Sejarah letusan Kelud tercatat sejak 1.000 M dengan lebih dari 30 kali letusan. Letusan terbesar tercatat berkekuatan 5 Volcanic Explosivity Index (VEI). VEI merupakan satuan untuk mengukur kekuatan letusan. Satuan ini dibutuhkan para ahli untuk membandingkan letusan gunung yang satu dengan yang lain. Sifat letusan yang eksplosif menyebabkan Kelud sebagai salah satu gunung aktif yang berbahaya bagi warga sekitar. Letusan 2014 lalu mengakibatkan hujan abu vulkanik hingga ribuan kilometer ke arah barat laut.

IMG_1506

Pada suatu kesempatan di Kantor Kecamatan Ngancar, Ngaseri berbagai pengalaman dalam penanganan bencana erupsi Gunung Kelud. Laki-laki yang berasal dari Desa Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah yang saat itu masih menjadi Camat Ngancar bertutur bahwa evakuasi mandiri yang sukses saat erupsi eksplosif 2014, diawali dengan persiapan yang sangat matang. Dia mengatakan pada 28 Desember 2013, gladi lapang dilakukan warga tiga desa di Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3, Kecamatan Ngancar. Di samping itu, strategi komunikasi digalang melalui beberapa pendekatan. Sebelum erupsi terjadi, Ngaseri mengatakan bahwa sosialisasi kepada masyarakat yang memfokuskan pada perubahan status gunung dan tatap muka dengan media lokal seperti Kelud FM dan Sempu Raya FM. Di wilayah Kecamatan Ngancar, Ngaseri juga mendirikan posko yang memiliki fasilitas media center.

Masih pada fase sebelum erupsi, Ngaseri dengan berbagai pihak membangun kesepakatan, antar lain dengan Pos Pemantauan Kelud yang dikelola oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), RAPI lokal KDR 6, beberapa radio komunitas Kelud FM, Sempuraya, dan Jangkar Kelud, Tagana, relawan, pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Sinergi sangat kuat di tingkat lokal yang terwujud dalam penyusunan standard operating procedure (SOP) Penanggulangan Bencana Kelud, khususnya penentuan titik kumpul dan jalur evakuasi, serta penyusunan dokumen penanggulangan bencana yang berbasis kearifan lokal.

Hal khusus yang menjadi aset masyarakat setempat untuk hidup harmoni dengan Kelud yaitu cerita rakyat sebagai basis mitigasi kultural. Kelud memiliki cerita yang melekat secara kultural bagi masyarakat setempat. Kisah Lembu Suro sangat diyakini warga untuk mengingatkan bahwa mereka hidup dekat dengan potensi ancaman, yaitu erupsi Kelud. Ngaseri mengatakan mengenai warisan cerita yang dipetik dari ucapan Lembu Suro.

Bakal tak bales makaping-kaping, Kediri dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung dadi kedung (Aku akan membalas dengan berlipat-lipat, Kediri menjadi sungai, Blitar menjadi luluh lantah, Tulungagung menjadi danau).”

Cerita lain yang menarik terkait mitigasi kultural yaitu mengenai tanda-tanda alam. Ngaseri menceritakan bahwa jelang erupsi ditandai dengan mulai turunnya hewan-hewan melata seperti ular ke dekat perkampungan. Dia mengatakan bahwa Kepala Desa Sugihwaras melihat ular sebesar kaki orang dewasa melintas di jalan desa satu minggu sebelum erupsi Kelud.

Ketika evakuasi berlangsung, Ngaseri dengan pihak terkait lainnya telah memiliki resep komunikasi. Strategi komunikasi yang dibangun oleh Ngaseri dan berbagai pihak tersebut bertumpu pada kesepakatan pesan. Di sisi lain masyarakat juga harus dipersiapkan dan memahami secara jelas mengenai karakteristik Kelud. Salah satu tokoh kunci dalam melihat konteks ini yaitu Khairul Huda, petugas pos pemantauan PVMBG. Menurutnya, edukasi untuk meningkatkan literasi warga terhadap ancaman Gunung Kelud menjadi dasar untuk menuju langkah selanjutnya.

Berikut ini strategi komunikasi untuk mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi erupsi Gunung Kelud sehingga evakuasi dapat berjalan dengan sukses.

Clipboard01

Radio komunitas memiliki peran penting dalam penyebaran informasi kondisi terkini Gunung Kelud. Radio digunakan karena media ini murah dan dapat diaskes dengan mudah oleh warga sekitar lereng. Ketika status pada level II, rilis informasi diberikan melalui siaran radio setiap 12 jam sekali, status level III rilis informasi setiap 6 jam sekali, dan status level IV rilis terus menerus dan himbauan warga untuk segera mengungsi. Penyampaian rilis informasi tentu menggunakan bahasa lugas dan mudah dipahami warga. Begini hal yang sering disampaikan oleh Ngaseri

“Saudara-saudaraku di lereng Gunung Kelud baik, kabupaten Kediri, Blitar dan Malang, status gunung…., aktivitas kegempaan … , himbauan….”

Lalu apa yang terjadi pada saat erupsi 13 Februari 2014 lalu? Ngaseri berbagi cerita saat itu pihaknya secepatnya menyampaikan informasi status awas (Level IV) kepada masyarakat. Ngaseri menghimbau warga di kawasan terdampak untuk segera melakukan evakuasi mandiri, serta memastikan mereka yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) II dan III untuk mengungsi.

Tak henti-hentinya Ngaseri dengan call sign Ngancar Satu memberitahukan kepada warga untuk melakukan evakuasi. 

“Saudara-saudaraku di manapun berada, saya Ngancar Satu, Ngaseri, menyampaikan kepada saudara-saudaraku di manapun berada, baik yang berada di lereng Gunung Kelud, Kota Kediri, Malang maupun Blitar, bahwa status Gunung Kelud pukul 21.15 dinyatakan ‘awas’. Untuk itu kami menghimbau untuk turun dan mengosongkan dan segera menuju ke titik-titik evakuasi yang sudah ditentukan. Kosongkan radius 10 km, kosongkan radius 10 km. Kami menghimbu untuk mengosongkan radius 10 km. Saudara-saudaraku mempersiapkan dan segera menuju ke titik pengungsian”. (Diartoko, dkk, 2014).

Untuk memastikan warganya tidak ada yang menjadi korban saat proses evakuasi, Ngaseri menjadi orang terakhir yang meninggalkan zona berbahaya. Proses evakuasi yang dilakukan warga dengan tertib dan cepat ini telah menyelamatkan diri mereka dari erupsi eksplosif Gunung Kelud. Tercatat lebih dari 80.000 warga selamat jelang detik-detik erupsi yang berlangsung malam hari itu.

IMG_0582
Foto: Diartoko

Perjalanan untuk membangun kesuksesan penanganan bencana tidak terlepas dari peran tiga figur sentral Ngaseri, Khairul Huda dan Sutrisno (Komandan Rayon Militer Ngancar). Menurut Ngaseri, dirinya mempraktekkan prinsip kepemimpinan. Prinsip-prinsip kepemimpinan itu, antara lain:

  1. Melepaskan baju (melepas sekat)
  2. Belajar
  3. Hadir, mengalami (melibatkan diri)
  4. Mendengarkan
  5. Mendampingi dan membimbing
  6. Turun
  7. Memotivasi tentang makna keselamatan
  8. Mengorganisir sumber daya yang ada
  9. Dibentuk (oleh situasi, pengalaman dan pihak lain)
  10. Menjadi contoh
IMG_0588
Foto: Diartoko

Kenangan lain mengenai sosok Ngaseri yaitu kekuatan supranatural yang dimiliki. Masih tertanam di pikiran ketika berkunjung ke Gunung Kelud. Ketika menunggu antrian motor yang akan mengantarkan lebih dekat ke kawah, obrolan lebih dekat dengan Ngaseri berlangsung. Suatu ketika Ngaseri berjalan dan mencari sebuah batu lontaran hasil erupsi. Ia pun mengambil sebuah batu berwarna hitam dan berdiameter sekitar 5 cm. Ngaseri berpesan untuk menjaga batu itu. Pesan yang terucap dari pria berkulit sawo matang ini selalu teringat dan dijaga hingga kini. Begitu juga ketika Ngaseri memperlihatkan kekuatan yang tidak dapat dipahami oleh akal sehat. Melalui daun bayam yang ditempelkan pada leher keempat orang. Mereka mampu mengangkat seorang yang sedang duduk di sebuah kursi hanya dengan masing-masing satu jari mereka. Selamat jalan Ngaseri!

 

 

Referensi

  1. Penanggulangan Bencana Erupsi Gunung Kelud (Ngaseri, 2014)
  2. Kelud Tanpa Kemelut – Rekam Jejak Inisiatif dan Kiprah Warga dalam Tanggap Darurat Erupsi Gunung Kelud (Diartoko, dkk, 2014)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s