Hidup di Wilayah Rawan Gempabumi dan Tsunami, Jangan Lupa Sejarah

“Jangan lupa sejarah,” kalimat utama yang disampaikan Prof. Ronald Albert Harris, Ph.D. dari Universitas Brigham Young University. Paparan panjang mengenai hasil penelitian selama 6 minggu menghipnotis hingga terbayang kepada suatu pemikiran, apakah kita yang berada di wilayah rawan gempabumi dan tsunami benar-benar siap apabila gempa terjadi.

ron 6Ron sapaan dari sang profesor mengingatkan kembali kepada kita yang hidup di Indonesia untuk tidak melupakan sejarah, seperti ungkapan dari Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno. Ron mengatakan bahwa apa yang terjadi di masa lalu bisa terjadi lagi di masa kini. Ini terbukti ketika dia dan koleganya menulis artikel di sebuah jurnal ilmiah terkait potensi gempa besar di sekitar patahan Sumatera. Dua tahun berselang, gempabumi dengan magnitudo besar terjadi hingga menyebabkan tsunami dahsyat yang menghantam wilayah Aceh dan sekitar.

Ron menyampaikan bahwa berdasarkan catatan sejarah dari tahun 1.500 telah terjadi lebih dari 1.000 sejarah gempa bumi besar, lebih dari 95 tsunami dan 1.300 letusan gunungapi. Catatan tersebut diperoleh dari berbagai sumber dari catatan sejarah peneliti semasa penjajahan Hindia Belanda, data dari USGS hingga penelitiannya.

ron_`
Sumber: Prof. Ron Harris

Satu hal menarik dari sosok Ron ketika dirinya sebagai seorang saintis mengkritik dirinya sendiri. Dia melihat dirinya sendiri tidak mampu untuk memberikan kontribusi besar bagi kemanusiaan. Ini terjadi ketika waktu itu dia sudah menulis mengenai potensi gempa dan tsunami namun tidak diikuti langkah lebih lanjut untuk langkah mitigasi terhadap populasi terpapar. Lalu dia melihat bahwa dirinya tidak saja berhenti pada hasil kajian yang dipublikasikan di sebuah jurnal ilmiah, tetapi yang jauh lebih penting bagaimana mengkomunikasikan hasil kajian kepada masyarakat.

Ron mengatakan bahwa komunikasi sangat penting untuk menindaklanjuti sebuah kajian ilmiah. “Tidak ada komunikasi, tidak ada orang di Aceh tahu tentang tsunami,” tambah Ron yang menjelaskan mengapa banyak korban jiwa saat gempa dan tsunami menerjang tahun 2004 lalu. Apabila seorang saintis menuliskan hasil penelitian di jurnal ilmiah, sesama saintis lah yang akan mengakses di jurnal tersebut. End to end dari suatu hasil kajian menurutnya adalah menyelamatkan jiwa manusia atau saving lives.

ron3
Sumber: Prof. Ron Harris

Paparan yang diberi judul ‘Bridges over Troubled Waters’, lagu kesukaan Ron, memberikan suatu harapan bahwa hasil kajiannya dapat diakses oleh banyak pihak, masyarakat maupun pemangku kepentingan, sebagai bentuk edukasi sehingga kita semua dapat merespon dengan tepat apabila gempabumi dan tsunami terjadi.

ron4
Sumber: Prof. Ron Harris

Ron melihat bahwa selama ini ada celah atau gap antara hal yang teknis (hard side) dengan sosial (soft side). Teknis mengacu tentang kajian-kajian risiko tsunami sedangkan sosial pada konteks pengurangan risiko. Selama melakukan penelitian di beberapa tepat, dirinya dan tim memunculkan pesan bagaimana masyarakat yang berada di wilayah rawan gempabumi dan tsunami untuk mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Saat di Pacitan, Ron menggagas pesan 20 – 20 – 20. Angka itu bukan sekedar angka yang kemudian muncul begitu saja. Namun angka ini berdasarkan kalkulasi saintifik yang memperhitungkan durasi gempa yang terjadi, kecepatan tsunami dan wilayah evakuasi aman. Lalu apa itu 20 – 20 – 20? 20 detik gempa (5 km/det x 200 det = 100 km zona pecah), 20 menit evakuasi (tsunami velocity) dan 20 meter ketinggian (tsunami model menunjukkan 20 m gelombang run-up). Namun Ron menyampaikan bahwa gagasan terhadap pesan itu harus adaptable dengan konteks wilayah. “Mungkin saja di Ambon 20 – 10 – 20, atau di Bali 20 – 20 – 10,” papar Ron yang selalu mempresentasikan hasil penelitiannya kepada pemerintah daerah setempat dimana Ron dan tim melakukan penelitian lapangan.

 

ron5

Sumber: Prof. Ron Harris

Terkait dengan proses mitigasi, Ron menceritakan bahwa kelompok masyarakat di Waingapu, Sumba Timur, tidak mengetahui sejarah tsunami di wilayahnya. Dia menjelaskan memang hal itu dapat terjadi karena generasi yang hidup di wilayah itu tidak pernah mengalami gempa ataupun tsunami; atau siklus gempabumi dan tsunami sedang ‘tidur’ pada suatu periode lalu. Ron menjelaskan bahwa, berdasarkan penelitian selama ini, yang menunjukkan pola siklus tidur-bangun-tidur, dan mungkin bangun pada periode selanjutnya. Atau, masyarakat di Bali yang tidak mengetahui bahwa mereka hidup di bekas endapan tsunami purba. Sang profesor mengingatkan mungkin selama ini sebagian besar masyarakat menandai tsunami pascagempabumi besar, padahal gempa yang tidak terasa besar namun berdurasi lama dapat menyebabkan tsunami mematikan.

Sementara itu, ketika masyarakat diberikan kuisoner mengenai pendekatan apa yang diinginkan saat peringatan dini. Sebagian besar masyarakat di Pelabuhan Ratu, Pacitan, dan Pangandaran memilih sirine. Namun yang terjadi, apakah semua sirine yang terpasang berfungsi secara baik? Di sisi lain, ketika warga mengetahui papan (rambu) mengenai arah evakuasi, pertanyaan kritis yang muncul mengenap kapan mereka harus evakuasi. Gagasan Ron yaitu dengan menambahkan papan seperti 20 – 20 – 20 di bawah papan arah evakuasi.

ron2
Sumber: Prof Ron Harris

Yang patut disikapi dengan serius mengenai kajian penelitian Prof. Ron mengenai Trench Java dan pulau-pulau kecil sekitar. Menurutnya, tidak ada gempabumi besar selama 111 tahun sesudah Krakatau. Selama ini masyarakat Indonesia hidup dalam masa tanpa aktivitas gempabumi dan tsunami, sedangkan populasi penduduk meningkat 10 kali lipat. “90% orang Indonesia tinggal di daerah bahaya,” ucap Ron.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s