Banjir dan Longsor Mengancam Sekitar Kita

Teringat beberapa tahun lalu, ketika mengunjungi relokasi Koa yang terletak di Mollo Barat, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Pascakonflik, sebagian masyarakat yang dulunya hidup di Timor Timur memilih untuk menetap di wilayah Timor Barat. Mereka pun direlokasi jauh dari tanah kelahiran. Ketika ingin mengunjungi mereka di relokasi, sungai yang tampak kering diseberangi di bawah terik matahari. Kalo tidak salah, sungai itu biasa disebut Sungai Noelmina. Sungai sangat lebar namun kering di saat musim kemarau. Berbeda dengan di Pulau Jawa dimana musim hujan berlangsung kurang lebih enam bulan, sedangkan di NTT hanya tiga bulan.

koa 1Saat sungai kering, perjalanan ke relokasi Koa dapat ditempuh dengan mobil. Mobil pun sampai di depan rumah eks-pengungsi Timor Timur, sebutan saat itu. Relokasi Koa yang diapit dua sungai sangat terisolir ketika memasuki musim hujan. Perbukitan tanpa akses kendaraan berada pada sisi lain dari relokasi ini.

Suatu ketika, di saat musim hujan dan sungai masih kering, perjalanan menuju ke relokasi sangat mudah meskipun panas menyengat. Tidak terbayang apabila sungai mulai dipenuhi air. Warga di Koa selalu mengingatkan untuk segera menyeberang sungai, kalau terlambat sedikit saja, ketinggian air sungai sangat membahayakan keselamatan. Suatu hari ketika harus kembali ke Kupang, awan hitam sudah tampak gelap. Gelap sekali. Hujan pun telah turun pada wilayah Koa. Rute jalan kaki dapat terkikis oleh derasnya air hujan. Tanpa disadari ketika harus menyusuri rute kembali ke Kupang, tidak ada lagi akses kerikil pasir sungai yang kering tadi. Jalan satu-satunya menyeberang sungai yang cukup lebar. Ketika sudah di bibir sungai, arus air sudah melaju dengan derasnya.

Keputusan pun diambil segera apakah harus tetap tinggal atau terus melangkah menuju seberang. Akhirnya dengan waktu yang sangat tepat, secara bersamaan dan bergandengan tangan, derasnya air sungai dapat dilalui. Air sungai sudah setinggi dada.

Selalu teringat peristiwa itu ketika kemudian mendapati informasi suatu wilayah diterjang banjir. Dapat dibayangkan situasi ketika terlanda luapan banjir atau arus yang kuat dan membawa apa pun yang dilaluinya. Banjir dan longsor merupakan ancaman bahaya yang mematikan di sekitar kita, yang berada di Indonesia.

DCIM100MEDIADJI_0055.JPG
Foto: BNPB

Sejak September 2017 hingga November 2017, sejumlah insiden banjir dan longsor menerjang beberapa wilayah di Indonesia hingga mengakibatkan 36 orang meninggal dunia. Pada periode tersebut 212 kejadian banjir dan longsor yang dikategorikan sebagai bencana hidrometeorologi juga merusak 369 rumah hingga rusak berat dan ratusan ribu mengungsi. Belum lagi dengan musim hujan yang masih berlangsung hingga awal tahun depan. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim hujan akan berlangsung pada Desember 2017 – Februari 2018. Mengutip Analis Data Bencana BNPB Suprapto, banjir dan tanah longsor tahun ini melebihi rata-rata tahunan, apabila dilihat dari data dengan rentang waktu 10 tahun.

IMG_1197
Foto: BNPB

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan sekitar 63,7 juta penduduk yang tersebar di 315 kabupaten/kota terpapar bahaya banjir, sedangkan 40,9 juta tersebar di 274 kabupaten/kota terpapar bahaya longsor. Dilihat dari sisi lain, berbagai faktor memicu tingginya ancaman banjir dan longsor di seluruh nusantara, seperti degradasi lingkungan, pemukiman warga di bantaran sungai, daerah aliran sungai (DAS) yang kritis. Sehubungan dengan DAS, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan dari 450 DAS di Indonesia, 118 DAS dalam kondisi kritis saat ini. Ketika DAS rusak, saat hujan akan mudah banjir dan sebaliknya, kemarau memicu kekeringan.

IMG_3584
Foto: BNPB

Dari sejumlah kejadian banjir dan longsor tahun ini, wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang sering mengalaminya. Akumulasi banjir dan longsor di Jawa Barat sejumlah 45 kejadian, Jawa Tengah 47 dan Jawa Timur 19. Jawa merupakan pulau berpenduduk padat dengan ancaman banjir dan longsor yang tinggi.

Lalu apa yang perlu kita perhatikan mencermati kondisi ini? Secara sederhana, identifikasi lingkungan Anda, apakah memiliki potensi terpapar banjir atau pun longsor. Apabila memang dikelilingi perbukitan, perhatikan curah hujan yang terjadi maupun durasi hujan berlangsung. Kita bisa mengakses informasi cuaca pada Info BMKG atau pada laman www.bmkg.go.id.

IMG_1318
Foto: BNPB

Mengantisipasi insiden terjadi, diskusikan sedini mungkin bersama dengan otoritas setempat mengenai rencana evakuasi maupun shelter. Apabila memang kita berada di lokasi yang rawan banjir dan longsor, persiapkan diri untuk mengantisipasi insiden terburuk dan persiapkan barang atau dokumen yang sangat penting untuk diamankan. Namun demikian, keselamatan diri adalah yang paling utama.

Sebarkan virus budaya sadar bencana kepada orang-orang di sekitar Anda!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s