Thoughts

Kandang Hewan Ternak, Berbagi Lahan Berbagi untuk Kebahagiaan

Memasuki sebuah gang kecil meninggalkan jalan utama, Jalan Semarapura – Karangasem, tercium aroma khas kandang hewan ternak. Siang itu hujan gerimis turun. Di samping kiri-kanan, rindangnya pepohonan menyejukkan lingkungan sekitar. Gang yang sudah teraspal memudahkan kendaraan untuk mengaksesnya. Jalan kecil yang hanya cukup dilalui satu mobil terletak di Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, Bali.

IMG_4532

Pada ujung gang memang terpasang spanduk berukuran sedang dengan tulisan ‘Pos Penampungan Hewan Ternak.’ Berjarak sekitar 500 meter dari mulut gang kecil tadi, terlihat terpal berwarna biru berdiri tegak sebagai pos penampungan hewan ternak.

Pos penampungan hewan ternak atau kandang hewan ternak ini dilengkapi dengan tempat pakan serta bak air yang juga terbuat dari terpal plastik. Tidak jauh dari kandang itu, tandon air berwarna kuning yang siap untuk menampung air.

Lokasi sekitar kandang tidak terlalu becek ketika hujan turun dan cukup bersih untuk ukuran kandang darurat. Kandang yang menampung hewan ternak berupa sapi telah dibangun beberapa bulan lalu ketika warga sekitar Gunung Agung harus menghindar dari wilayah berbahaya.

IMG_4537Sejak 27 November 2017, pukul 6 pagi waktu setempat, Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem kembali berstatus tingkat IV, pada tingkat tertinggi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan mereka yang tinggal di dalam radius 8 km dan sektoral radius 10 km, yaitu di utara – timur laut dan tenggara – selatan – barat daya untuk menjauh dari kawasan yang berbahaya.

Masyarakat dari 22 desa di Kecamatan Abang, Bebandem, Kubu, Rendang, dan Selat segera mengungsi pada hari itu juga. Seperti peristiwa sebelumnya, hewan ternak menjadi perhatian yang perlu disikapi dalam penanganan darurat.

Di Balik Suatu Kisah Musibah_

Tepat di seberang kandang sapi tampak rumah permanen dengan halaman yang luas. Beberapa tempat sesaji berderet di samping rumah. Rumah yang bercorak budaya lokal itu memiliki pelataran dimana penghuninya berkumpul. Tampak seorang bapak bersama anggota keluarga lain tengah mengobrol di bawah hujan gerimis yang baru saja mulai.

Tampak mengenakan rompi petugas, laki-laki berkumis tebal ini memanggil dan kemudian membagikan cerita yang indah. I Wayan Sukarata yang bekerja di UPT Dinas Pertanian Kecamatan Sidemen ini dengan tulus berbagi apa yang dia dan keluarga miliki dengan keluarga para penyintas. Penyintas merupakan sebutan untuk mereka yang melakukan evakuasi dan berjuang untuk bertahan hidup. Sukarata, sejak Oktober 2017 lalu, telah menerima kehadiran beberapa keluarga penyintas yang memiliki sapi.

IMG_8784

Foto: BNPB

Sapi Bali sebagai hewan ternak memiliki nama latin Bos Sondacius; sapi yang dikenal sangat tangguh dan kuat ketika dipekerjakan di lahan persawahan. Meskipun berkarakter tangguh dan kuat, warga pemilik tidak memiliki ikatan khusus dengan sapinya.

Hal ini berbeda dengan tradisi masyarakat Jawa yang memberikan nama unik pada sapi mereka. Di masyarakat Bali, Sukarata menyampaikan bahwa hewan ternak ini hanya sebagai aset yang sangat berharga dan sumber penghidupan bagi keluarga.

Selang air berwarna hijau tampak terbentang dari halaman rumahnya ke bak air di kandang darurat. Tampak juga kabel listrik penerangan lampu kandang yang diambil dari kediaman Sukarata.

Dia secara sukarela memberikan kebutuhan air untuk ternak dari saluran PDAM miliknya. Demikian juga, aliran listrik yang berasal dari jaringan rumah untuk penerangan kandang. Tidak hanya itu, pria yang telah menginjak paruh baya ini memberikan sepetak lahan untuk kandang darurat milik para penyintas tadi. Para pemilik sapi itu berasa dari Desa Sebudi. Mereka pun tinggal sementara berdekatan dengan kandang sehingga setiap hari mereka dapat merawat sapi peliharaan.

Awal mula wilayah Talibeng menerima sapi karena himbauan dari kepala dinas pertanian kepada para pegawai untuk mencarikan lahan yang memenuhi kelayakan sebagai kandang hewan ternak. I Wayan Sukarata ini pun mendapati wilayahnya cocok sebagai kandang darurat. Dia dan beberapa warga memberikan tempat sementara untuk pembangunan kandang darurat.

IMG_8810

Foto: BNPB

Pada pengevakuasian pada 27 November 2017 lalu, sekitar 44 ekor sapi berada di lahan seberang rumah Sukarata. Sementara 13 ekor lain berada di lahan miliknya. Kebanyakan sapi yang ditampung di lahan miliknya dan warga setempat betina.

Mengingat jumlah ternak yang lebih banyak dibanding sebelumnya, dia mengharapkan ada dukungan pemerintah untuk mengganti pengeluaran air dan listrik kandang darurat. Pemakaian dua kebutuhan utama ini dapat membebani kehidupan Sukarata.

Dia dengan tulus tidak akan meminta ganti rugi untuk air dan listrik pada saat evakuasi sebelumnya. Namun mengingat jumlah sapi yang dievakuasi saat ini banyak, dirinya mengharapkan dukungan dari pemerintah.

Di sisi lain, pemilik lahan lainnya, Mangku Tradi, memberikan lahan untuk kandang darurat. Tradi mengharapkan sapi tidak hanya ditempatkan di lahannya untuk durasi 1 bulan saja. Hal tersebut disampaikan oleh Sukarata dengan sebuah alasan.

“Biar dapat pupuk tapi jangan terus dipindahkan dalam waktu 1 bulan. Iya, yang dia punya itu yang dia pinjamkan (lahan).”

IMG_8814

Foto: BNPB

I Wayan Sukarata dan masyarakat lain merelakan tanah untuk digunakan sebagai tempat penampungan hewan ternak karena dorongan kemanusiaan. Mereka ingin membantu warga lain yang sedang tertimpa musibah, harus mengungsi meninggalkan tempat tinggalnya karena berada di zona merah bahaya erupsi Gunung Agung.

Menyama Braya_

Apa yang dilakukan I Wayan Sukarata dan warga lain merupakan perwujudan nilai luhur yang hidup di masyarakat Bali, Menyama Braya. Nilai gotong royong untuk meringankan penderitaan sesama yang sedang tertimpa musibah. Masyarakat sangat percaya apa pun yang ditanam, dalam arti melakukan kebaikan, Hyang Widhi pasti mengembalikan. Sifat yang hakiki dari manusia yaitu berbagi kebahagiaan dan kasih.

Sukarata mewujudkan nilai ini dengan berbagi lahan untuk hewan ternak milik para penyintas. Hewan itu merupakan sumber penghidupan bagi keluarga penyintas. Dengan berbagi itu, tidak hanya Sukarata semata tetapi juga keluarganya mendapatkan kebahagian batin.

Hal tersebut senada dengan pandangan universalitas, Antony de Mello berpandangan bahwa semua manusia bergantung dengan pribadi-pribadi sekitarnya. Manusia berbagi peran untuk sesama demi kesejahteraan setiap orang.

Ini dapat diterjemahkan bahwa kebergantungan satu sama lain adalah sifat hakiki untuk mencapai kebahagiaan.  Apabila seorang manusia melakukan kebaikan kepada orang lain, orang itu pada akhirnya akan mengisi kebahagian.

Di tengah bencana, kita selalu menemukan kisah-kisah luar biasa yang menyentuh nilai kemanusiaan yang sifatnya common practice. Kisah tersebut selalu menginsipirasi kita semua untuk tidak lupa bahwa eksistensi kita memiliki peran yang luar biasa bagi orang-orang di sekitar kita maupun mereka yang tertimpa bencana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s