Tidak Menyerah di Saat Ancaman Agung Melanda

Dari kejauhan, tampak lembaran-lembaran terpal plastik diikat pada rangka atap sebuah banjar. Terpal itu bagaikan dinding yang mengelilingi bangunan bale banjar yang tidak terlalu besar. Dari luar terlihat gelap karena matahari terhalang oleh terpal dan belum menyalanya lampu penerangan.

Namun begitu mendekat, di balik dinding tipis itu puluhan warga sedang beristirahat. Anak-anak bermain di dalam bale banjar, orang-orang tua sedang beristirahat, dan ibu-ibu usia produktif sedang melakukan pekerjaan tangan.

Siang hari itu, ketika melangkah ke dalam bale yang terasa gerah, seorang ibu dengan terampil menganyam material alam yang disebut ate. Ibu ini mengkombinasikan material ate dengan material lain yang disebut di. Anyaman itu dibentuk menjadi kotak tisu. Bahan ate memiliki ketebalan yang berbeda.

WhatsApp Image 2017-12-11 at 23.07.35Ibu yang biasa dipanggil Manik sudah memiliki keterampilan menganyam semenjak dari dulu. Dia dan ibu-ibu seusianya telah menekuni keterampilan menganyam secara turun temurun. Sementara ibu-ibu yang sudah lanjut usia cenderung untuk tidak melakukan keterampilan yang memerlukan ketekunan ini.

Manik dan ibu-ibu lain mengerjakan kotak tisu untuk mengisi waktu selama berada di pengungsian. Manik yang sebagian ternaknya telah dijual dan sebagian lain ditinggalkan di rumah mengisi kejenuhan dengan menganyam ate dan di menjadi kotak tisu. Ketika di desanya, dia merawat hewan ternaknya seperti sapi, babi dan ayam.

Kotak tisu yang dihasilkan dihargai Rp 70.000 hingga Rp 75.000 dan biasanya dijual kepada pengepul di sekitar wilayah itu. Satu kotak tisu dapat diselesaikan dalam kurun 3 – 4 hari, tergantung dengan ukuran. Meskipun sekarang ini kondisi ekonomi setempat sedang melemah, harga kotak tidak mengalami penurunan harga.

Namun Manik berbagi kegelisahan dimana harga bahan baku alami mengalami kenaikan harga. Dia mengatakan harga ate seikat seharga Rp 25.000 dan di seharga Rp 40.000. Dahulu harga kedua bahan baku ini lebih murah. Seikat ate yang tipis dapat menghasilkan 3 kotak tisu atau bentuk lain, seperti tas dan tokasi.

“Bahan sekarang mahal, mungkin mereka tahu kita sedang mengungsi dan tidak ada pekerjaan. Banyak tidur juga bosan.”

WhatsApp Image 2017-12-11 at 23.08.13Ketika ditanya apakah Manik tertarik dengan bentuk kerajinan lain yang memiliki nilai jual lebih, dia ingin mencoba. Namun belum ada sebuah organisasi yang menawarkan hal tersebut kepada dia dan ibu-ibu yang ada di pos penampungan tersebut. Meskipun belum memiliki kesempatan yang lebih baik, Manik dan ibu-ibu lain tidak menyerah pada saat sulit seperti sekarang ini. Dengan keterampilan yang dimiliki, mereka ingin mendapatkan tambahan untuk penghidupan keluarga.

Mengungsi di Tahun 1963

Sementara itu, pada saat ditemui di dalam bale, suaminya sedang bekerja di luar. Suami memiliki keterampilan dalam membuat pahatan kayu. Manik yang sedang menyelesaikan tempat tisu itu sembari menunggu ibunya yang sudah lanjut usia.

Manik dan keluarga telah mengungsi namun dia meninggalkan hewan ternak sapi dan ayam di rumahnya. Meskipun sudah mengetahu dinas peternakan memberikan pakan untuk hewan ternak di penampungan, dia enggan untuk menurunkan ternak ke penampungan hewan.

WhatsApp Image 2017-12-11 at 23.08.13 (1)

Dia hanya berharap hewan ternaknya dalam kondisi baik. Dia mengatakan baru akan mengambil hewan ternaknya apabila Gunung Agung meletus hebat. Mungkin keengganan karena beberapa kasus sapi patah kaki ketika dievakuasi dan juga lokasi pos penampungan ternak yang jauh dari tempat pengungsian.

Berbeda dengan apa yang dialami oleh seorang nenek bernama Kedep, yang duduk di sebelah Manik. Ketika ditemui di antara ibu-ibu yang sedang menganyam, Kedep bercerita dirinya sebagai penyintas setelah Gunung Agung meletus pada 1963. Manik mengetahui kisah Kedep saat evakuasi dulu.

“Ibu ini dulu mengungsi karena tanaman mati karena abu. Mereka berjalan dengan sapi hingga Kecamatan Manggis.”

Kedep berjalan kaki puluhan kilometer bersama dengan warga yang lain untuk bertahan hidup. Tidak ada petugas yang membantu evakuasi saat itu. Dia membawa sapi yang sedang bunting. Anak sapi pun lahir di pengungsian. Kedep memutuskan kembali setelah 6 bulan berada di Manggis. Namun sial, anak sapi yang turut dibawa pulang ke kampung mengalami sakit karena memakan tanaman yang tercemar abu vulkanik.

Manik dan Kedep sama-sama berasal dari Desa Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, yang berjarak sekitar 7,5 km dari puncak Gunung Agung. Mereka untuk sementara tinggal di sebuah bale banjar yang bersampingan dengan Kantor Desa Pertima dan hanya berdinding terpal. Meskipun malam hari, Manik tidak merasakan dingin karena beberapa keluarga berkumpul dalam banjar itu.

IMG_20171128_144122Gunung Agung yang berlokasi di Kabupaten Karangasem, Bali masih berstatus level IV (Awas) level tertinggi yang menunjukkan aktivitas vulkanik gunung api. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menetapkan status tersebut pada Senin, 27 November 2017, pada pukul 6 pagi waktu setempat. Masyarakat yang berada di kawasan berbahaya akhirnya dievakuasi keluar dari kawasan merah.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s