Experiences

Pertemuan dengan Para Penyintas Rohingya

Perlu segera mempersiapkan diri ketika mengetahui akan ditugaskan oleh institusi menuju Cox’s Bazar. Tak cukup waktu untuk mencari informasi mengenai Cox’s Bazar maupun Bangladesh. Saat itu, pengetahuan hanya sebatas permasalahan kemanusiaan; penyintas atau pengungsi dari wilayah negara bagian Rakhine mengungsi ke wilayah Bangladesh. Bayangan waktu itu, secara geografis Cox’s Bazar pastinya berseberangan dengan wilayah Rakhine.

Informasi yang diterima sebelum keberangkatan yaitu mengantar bantuan kemanusian hingga Cox’z Bazar, beberapa personel yang akan terlibat, transit di Banda Aceh, dan naik dengan pesawat Hercules milik TNI AU. Keesokan hari tiba di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, tepatnya pukul 04.30 pagi, dan ternyata waktu itu masih terlalu gelap. Belum ada tanda-tanda terang dari sang matahari. Belum lagi tidak ada kendaraan yang mengantar hingga landas pacu di dalam area steril. Terang mulai tampak lebih setengah jam kemudian. Saat itu, situasi sekitar mulai terlihat lalu Lalang personel militer.

Menjelang pukul 07.00 pagi pada Rabu 24 Januari 2018 lalu, waktu keberangkatan, masih belum jelas juga. Ternyata, keberangkatan barang bantuan akan dilakukan setelah Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) melepas tim kemanusiaan ini. Sejenak terlintas di dalam pikiran, tak terbayang kondisi ruang pesawat yang terisi barang bantuan. Perjalanan nanti jadi terasa panjang.

Jokowi Melepas Bantuan Kemanusiaan dan Rute Panjang Perjalanan

Bis warna gelap melaju mendekat posisi parkir Hercules. Orang nomor satu di negeri ini turun didampingi JK, panggilan akrab pendamping Sang Presiden. Pemimpin rombongan Marsekal Muda Anang Suhadi segera menyambut dan menjabat tangan Presiden Jokowi. Obrolan ringan berlangsung sambil menuju ke bagian belakang pesawat.

cox bazar 1

Presiden Jokowi menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan sangat dibutuhkan oleh para pengungsi. “Bantuan ini sangat dibutuhkan sekali, terutama obat-obatan dan permakanan.”

Bantuan kemanusiaan yang diberikan terdiri dari 12 jenis seperti makanan tambahan gizi bayi dan ibu hamil,  peralatan sekolah, lampu darurat dan family kits. Jenis bantuan yang dikirimkan ini berdasarkan kajian lapangan kebutuhan pengungsi. Bantuan seberat 10,43 ton akan didistribusikan kepada para pengungsi sesuai dengan rekomendasi dari otoritas setempat.

Setelah kunjungan itu, persiapan akhir dilakukan para kru pesawat. Semua anggota tim diperintahkan masuk ke dalam pesawat. Kurang lebih tiga perempat ruang penuh dengan barang bantuan. Sisi-sisi bagian dalam pesawat tampak susunan besi yang tersusun bak kursi pesawat. Ternyata, itulah tempat duduk yang dipersiapkan selama perjalanan panjang menuju Bangladesh.

Beruntung, perjalanan udara tidak langsung menuju Bangladesh. Hercules yang bercorak dominan hijau ini terbang ke Bandar Udara Sultan Iskandar Muda di Aceh. Perjalanan dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Banda Aceh memerlukan waktu sekitar 4 jam. Perjalanan cukup membosankan karena ruang sempit di dalam pesawat. Berdiri dan stretching sementara waktu untuk meluruskan kaki.

Bermalam di Aceh Besar mengingatkan selalu pengalaman beberapa tahun lalu. Kala itu, rute Banda Aceh menuju Bireuen menjadi perjalanan yang sangat melelahkan. Ketika kami sudah tiba di Aceh, tidak hanya untuk beristirahat sebelum mengakhiri perjalanan tetapi juga mempersiapkan untuk penyuntikan vaksin difteri. Difteri merupakan infeksi bakteri yang dapat mengancam jiwa. Bakteri ini menyerang selaput lendur pada hidung dan tenggorokan, serta kulit. Yang perlu diwaspadai yaitu penularan melalui udara dari orang yang terinfeksi bakteri berbahaya ini. Mengantisipasi penularan, semua anggota tim disuntik vaksin difteri oleh seorang dokter TNI AU.

Hari yang ditunggu pun tiba. Kamis, 25 Januari 2018, tim bantuan kemanusiaan Indonesia bertolak menuju Bangladesh tepat pukul 07.00 pagi. Waktu itu belum terbayang akan mendarat di mana, hanya terlintas mungkin di Dhaka, ibukota negara. Terdengar saat itu, pesawat mendarat di Chittagong. Lagi-lagi tidak terbayang secara spasial antara Dhaka dan Chittagong. Yang ada di dalam pikiran yaitu jalani saja perjalanan tanpa persiapan matang.

Empat jam di udara cukup membosankan. Bermodal rasa kantuk yang hebat akhirnya dapat menikmati berada badan Hercules. Perjalanan berjalan lancar, sekitar pukul 12.00 waktu setempat, pesawat Hercules mendarat di Bandar Udara Internasional Amir Shah, Chittagong. Baru sadar bahwa Chittagong berada di Bangladesh dan bukan di India. Chittagong merupakan kota dengan populasi terbesar kedua setelah Dhaka. Memang benar setelah berada di jalanan Chittagong yang penuh lalu lalang manusia dan beragam kendaraan. Sangat padat dan membuat kepala pening. Semua orang tampak tidak sabar namun dengan raut muka tanpa ekspresi. Bunyi klakson dari semrawutnya kendaraan bak di medan wilayah tanpa aturan. Rasa lelah, bunyi klakson dan cara berkendara memacu keinginan untuk segera sampai di tempat penginapan.

Ternyata hari itu memang menjadi mimpi buruk. Perjalanan menuju sebuah wilayah bernama Cox’s Bazar membutuhkan waktu lebih dari 5 jam. Suatu perjalanan yang sungguh melelahkan karena sepanjang jalan setiap orang sepertinya tidak memiliki kepedulian berkendara. Jelang tengah malam, mobil melintas di bundaran berpatung hiu dan selang beberapa meter memasuki hotel. Tibalah tim di sebuah hotel yang cukup nyaman.

Di dalam pikiran, mendengar nama Cox’s Bazar sangat keren. Namun saat berada di kota itu, keinginan untuk tinggal hanya sebatas menjalankan tugas. Atmosfir dan masyarakat Bangladesh unik. Saat keluar dari Bandara Amir Shah, ketegangan berlalu lintas sudah terasa. Meskipun tidak memegang stir kendaraan tetapi rasa was-was menghinggapi sepanjang perjalanan.

Cox’s Bazar merupakan kota wisata yang dikenal juga sebagai Panowa dan Palongkee. Kota ini berjarak sekitar 150 km dari Chittagong. Tampak di beberapa spot, hotel berbintang yang dihuni para tamu yang sepertinya sebagian dari para pekerja kemanusian internasional. Berbaring rileks adalah momen yang ditunggu-tunggu setelah perjalanan darat yang sangat melelahkan.

Kem Jamtoli

cox bazar 2

Keesokan hari, tim melakukan perjalanan menuju kem (camp) Jamtoli yang masih berada di wilayah Cox’s Bazar, tempat Presiden Jokowi akan berkunjung dan memberikan bantuan bagi para penyintas. Lagi-lagi, belum tebayang seperti apa kem yang akan dikunjungi presiden nanti. Perjalanan dari Hotel di Cox’s Bazar menuju kem kurang lebih membutuhkan waktu 1,5 jam.

Sepertinya cara berkendara di sini memang membuat sakit kepala.

Ketika mulai memasuki suatu wilayah, tampak spanduk dengan kata ‘Rohingya.’ Rupanya sudah memasuki zona kem. Terlihat personel militer berjaga di pintu atau akses masuk kem. Kendaraan terus melaju dan terekspos ribuan tenda di pinggir jalan maupun jauh ke dalam. Jauh mata memandang ke bagian dalam, hanya tampak gubung para penyintas. Ada yang mengatakan wilayah ini dulunya rimbun, banyak pepohonan, namun seketika semua telah ditebang.

cox bazar 5

Gubug yang terbangun dari lembaran plastik, terpal, atau bambu terbangun di hamparan luas sepanjang jalan. Kawasan gubung atau kem itu berjejer hingga ke pucuk bukit. Warna hitam, biru, oranye, coklat dan silver menghiasi pemandangan yang terik di bawah sinar matahari siang.

cox bazar 9

Seketika teringat pengalaman enam belas tahun lalu saat mendampingi pengungsi Timor Timur yang berada di kem-kem di Timor Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saat itu ribuan keluarga pengungsi berada di satu zona kem, seperti Tuapukan. Mereka berada dalam kondisi kemiskinan ekstrim. Tidak hanya tanpa harta benda tetapi juga kehilangan tanah kelahiran. Mereka tidak dapat kembali karena sejarah konflik kekerasan masa lalu. Mereka bukanlah orang dengan kehendaknya sendiri meninggalkan tanah kelahiran tetapi dengan alasan ancaman balas dendam ataupun ketakutan.

Kesedihan yang sama ketika berjumpa dengan masyarakat Rohingya di kem Jamtoli. Gubung mereka sangat kotor oleh debu dan seadanya. Lembaran-lembaran plastik terpasang sebagai dinding dan atap, menutup rapat gubung sebagai tempat tinggal. Struktur tanah menjadikan zona kem sangat berdebu.  Tidak ada pepohonan rindang untuk berteduh dan membuat nyaman lingkungan sekitar kem. Namun, mereka sudah terbiasa dengan kondisi yang ada. Tidak setiap gubug memiliki kamar mandi. Beberapa titik terlihat pompa air dimana mereka bisa menggambil air untuk berbagai kepentingan.

cox bazar 7

Sempat mampir ke satu titik, tempat pelayanan kesehatan dari lembaga kemanusiaan dibangun untuk para penyintas. Di dekat gang masuk ke tempat itu tertulis:

NO ENTRY/STAY/MOVEMENT IS ALLOWED AFTER 5 PM EXCEPT DISPLACED MYANMAR NATIONALS

Salah satu sukarelawan dari Indonesia menyampaikan bahwa kawasan memang harus steril dari warga asing yang memberikan pelayanan bagi para penyintas. Jadi, dia dan semua tim harus meninggalkan kem sebelum jam menunjukkan pukul 5 sore. Bagi Pemerintah Bangladesh sendiri, pergerakan para penyintas sangat dimonitor. Ada yang menggatakan mereka tidak diperbolehkan untuk menikah dengan masyarakat lokal. Apabila ini terjadi, hukuman penjara siap menunggu mereka.

Saat berpapasan dengan anak-anak, hanya terbayang masa depan mereka. Entah sampai kapan krisis kemanusiaan ini berakhir. Menurut informasi, krisis kemanusiaan Rohingnya ini menjadi yang terbesar di antara krisis kemanusiaan yang lain. Mereka tersenyum seolah tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ada sebagian mereka yang bermain secara berkelompok, berjalan sekitar kem untuk sekedar beraktivitas sedangkan yang lain mengantri untuk mendapatkan makanan tambahan.

cox bazar 4Sementara orang dewasa tampak berjalan kaki di sekitar kem. Mereka tidak dapat mengakses pekerjaan. Keluarga sangat bergantung dari bantuan kemanusiaan masyakat internasional. Pada salah satu sudut, kumpulan laki-laki dewas berbaris rapi di bawah pantauan tentara untuk mendapatkan sepasang kaos kaki. Kaos kaki memang dibutuhkan mengingat Bangladesh memiliki musim dingin meskipun tidak ada salju. Beberapa hari setelah berada di sana, udara siang terasa dingin.

Suatu hari, rombongan Presiden Republik Indonesia Jokowi berkunjung ke Kem Jamtoli dan bertemu dengan sukarelawan dari Indonesia. Presiden Jokowi bertemu dengan beberapa anak penyintas dan memberikan bantuan bagi mereka. Pelayanan kesehatan dengan semangat kemanusiaan lintas bangsa yang diberikan oleh para sukarelawan sangat diapresiasi oleh Presiden Jokowi.

Perjumpaan dengan para penyintas merupakan kesempatan yang sangat berharga. Mengevaluasi diri bahwa aku patut bersyukur dengan kehidupan yang aku miliki saat ini. Dapat dibayangkan apabila kita diperlakukan dengan kekerasan hingga muncul rasa takut yang besar dan akhirnya harus meninggalkan tanah kelahiran atau ‘rumah. Dan ketika aku membayangkan sudah berada di suatu wilayah atau negara lain, kita tidak memiliki kebebasan untuk bepergian atau sekedar mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Aku selalu berharap krisis kemanusiaan di manapun di belahan bumi ini berakhir dan mereka yang tertindas dan terusir dari ‘rumah’ mereka mendapatkan kembali kebebasan dan martabat mereka sebagai manusia, baik di tanah kelahiran atau di negara barunya. Setiap dari kita memiliki kewajiban untuk membangun dunia yang damai.

In a spirit of compassion, let us embrace all those fleeing from war and hunger, or forced by discrimination, persecution, poverty and environmental degradation to leave their homelands. (Pope Francis, 1 Januari 2018)

Sekilas Pengungsian Rohingya

Konflik kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar telah memicu gelombang pengungsian, salah satunya memasuki wilayah negara Bangladesh. Krisis kemanusiaan ini menyebabkan warga yang mayoritas etnis Rohingya mengungsi. Pengungsi (refugee) Rakhine tersebut mendapatkan tindakan kekerasan dan persekusi oleh otoritas setempat hingga memicu pengungsian besar-besaran yang terjadi sejak 25 Agustus 2017 lalu.

Berdasarkan Inter Sector Coordination Group (ISCG) per 28 Januari 2018 menyebutkan bahwa sejumlah 688.000 pendatang baru dilaporkan hingga 21 Januari 2018. Jumlah tersebut dihimpun dari International Organization of Migration (IOM) dari pendataan kebutuhan dan monitoring populasi atau Needs and Population Monitoring (NPM). Jumlah ini masih dalam proses evaluasi dan triangulasi untuk jumlah terverifikasi akhir.

Pengungsian di Bangladesh tersebar di beberapa wilayah, seperti Bagghona, Hakimpara, Mainneghona, Balukhali, Kutu Palong, dan Jamtoli. Pengungsian tersebut dihuni oleh jumlah pengungsi yang berbeda. Mayoritas pengungsi berada di Kutu Palong (178.000 jiwa), Sub-distrik Ukhia, Distrik Cox’s Bazar. Saat ini mereka mendapatkan pelayanan dasar dan perlindungan dari organisasi internasional dan organisasi kemanusiaan dari dalam dan luar negeri.

Berbagai organisasi tersebut berkomitmen untuk penanganan krisis kemanusiaan pengungsi Rohingya pada kegiatan yang terwadahi dalam dokumen Humanitarian Response Plan periode September 2017 – Februari 2018. Komitmen tersebut terfokus pada 3 tujuan strategi, yaitu penyediaan kebutuhan dasar di resettlement, kamp (pos pengungsi) dan masyarakat setempat, peningkatan kondisi fisik dan manajemen, termasuk infrastruktur dan perencanaan wilayah. Terakhir, penyediaan perlindungan dan keamanan bagi para pengungsi. Resettlement merupakan terminologi untuk penempatan hunian bagi para pengungsi di sebuah negara penerima, yang berada di luar negaranya.

Sejak pengungsi terjadi pada Agustus 2017 lalu, organisasi internasional di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) terus memberikan perlindungan bagi para pengungsi yang berada di wilayah Bangladesh. Pengungsian Rohingya terus mendapatkan perhatian dari komunitas internasional, termasuk Pemerintah Indonesia. Berbagai organisasi internasional terlibat dalam pelayanan kemanusiaan seperti WVI, MSF, Islamic Relief, Save the Children, Oxfam, IOM, ICRC dan badan PBB, seperti UNFPA, WFP, UNHCR, Unicef, dan FAO.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s