DIBI

Indonesia merupakan laboratorium bencana. Kita dapat melihat setiap tahun Indonesia mengalami berbagai jenis bencana, seperti bencana hidrometeorologi dan bencana geologi. Data kejadian bencana cenderung meningkat setiap tahun. Hal tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor seperti degradasi lingkungan, siklus berulang terkait fenomena geologi, perubahan iklim, dan pertambahan penduduk.

Pada konteks pencegahan dan kesiapsiagaan, data bencana dibutuhkan untuk berbagai kajian seperti penyusunan peta rawan atau indeks risiko bencana. Data bencana di Indonesia ini dapat diakses melalui tampilan muka dengan alamat situs http://dibi.bnpb.go.id/dibi/ atau http://bnpb.cloud/dibi/.

dibi 1

DIBI atau Data dan Informasi Bencana Indonesia merupakan sistem database historis bencana yang menampilkan data bencana di Indonesia dari 1815 hingga kini. Situs ini secara lengkap menampilkan data bencana seperti data historis bencana, jumlah jiwa meninggal dan terluka atau kerusakan pada setiap jenis bencana. Di samping itu, Anda dapat mengunduh dan mencetak setiap tampilan dengan berbagai format seperti JPG, PNG, PDF, aau pun SVG.

DIBI menampilkan beberapa informasi pada tampilan muka, seperti Sebaran Kejadian, Tren Kejadian Bencana, Jumlah Kejadian Bencana dan Data Terkini pada tahun berjalan. Keempat bagian ini bersifat dinamis yang dapat diinput oleh administrator maupun pengguna. Pengguna dapat secara cepat membuat perbandingan pada bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor pada periode yang telah ditentukan, misal 10 tahun terakhir. Perbandingan tahun dimulai sejak 2002.

dibi 2

dibi 4

Sementara itu pada bagian Sebaran Kejadian, kita dapat melihat sebaran kejadian bencana di setiap provinsi pada tahun terkini. Bagian ini sangat menarik karena kita dapat melihat secara spasial provinsi dan jumlah kejadian. Sayang, tampilan spasial belum sampai pada tingkat kabupaten dan kota. Di sisi lain, masih terdapat kesalahan program ketika kita akan melakukan input pada kategori. Semoga ke depan ini dapat diperbaiki. Apabila menemukan data yang sepertinya tidak valid, Anda dapat menuju pada menu Statistik Bencana yang berada pada sebelah kiri.

dibi 5

Tampilan statistik bencana

Pada tabel atas pada beranda, beberapa highlight data secara akumulatif pada tahun berjalan ditampilkan seperti jumlah kejadian, korban, rumah rusak, dan fasilitas umum. Data pada tabel tersebut akan dimutakhirkan oleh administrator.

dibi 3

Tabel data pada beranda

dibi 7Pada menu samping kiri atas, Anda dapat melihat beberapa ikon seperti Beranda, Statistik Bencana, Data Pendukung, dan Dokumen. Statistik Bencana akan menampilkan data detail yang dapat diinput oleh pengguna. Pertama kita dapat memasukkan tingkatan per wilayah administrasi (provinsi, kabupaten, dan kota), kemudian waktu kejadian atau periode waktu, kemudian kategori data (jenis bencana, jumlah kejadian, korban jiwa, rumah rusak, fasilitas umum rusak). Selain data statistik, Anda dapat memperolehnya dalam bentuk grafik.

Satu hal yang bisa diakses pada DIBI yaitu Kode Identifikasi Bencana (KIB). Anda dapat mencari KIB ini pada menu Beranda, yaitu Daftar Bencana. Pada daftar bencana ini, data yang diberikan sangat dinamis karena memberikan data perkembangan suatu kejadian bencana. KIB dibutuhkan untuk memberikan persepsi yang sama apabila kita membahas suatu bencana yang merujuk pada bencana yang sama, seperti misalnya pada kejadian gempa Aceh dengan magnitude 6,5 yang terjadi 2016 lalu, ada dua frase yang digunakan yaitu gempa Aceh dan gempa Pidie Jaya. Melalui KIB ini kita dapat mengidentifikasi data yang tersedia sesuai dengan data yang memang dibutuhkan. KIB merujuk pada kode provinsi, kode kabupaten, jenis bencana, tahun, bulan, tanggal dan indeks kejadian bencana.

dibi 6

Tampilan data dengan KIB

DIBI ini merupakan pengembangan dari DIBI sebelumnya sebagai adopsi dari metodologi DesInventar. Metodologi ini mengacu pada suatu sistem berbiaya murah yang digunakan negara-negara di Amerika latin untuk mencatat secara sistematis wakut, tempat dan dampak bencana sesuai dengan kejadian. Sebelumnya, DIBI telah digunakan untuk beberapa kepentingan seperti penyusunan peta indeks rawan bencana, indikator proxy peta risiko, penentuan dana alokasi khusus terkait dengan peta indeks rawan bencana, penyusunan rencana aksi nasional penanggulangan bencana, dukungan kebijakan program nasionl dan rencana pembangunan atau penelitian di dunia akademis.

Namun demikian, DIBI masih dibutuhkan pengembangan dan penyempurnaan sebagai database yang secara sempurna memberikan analisis komposisi, spasial dan statistik. Ini tampak pada DIBI terkini yang masih memiliki beberapa fitur yang sebetulnya pada DIBI sebelumnya sangat menarik untuk ditampilkan.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s