Kajian Paleotsunami di Kepulauan Maluku Barat Daya

Ditarik garis tegak lurus ke arah selatan, sekitar 500 km dari Pulau Ambon, ada tiga Pulau Letti, Moa dan Lakor. Ketiga pulau ini menjadi bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Maluku Barat Daya atau MBD. Lalu apa yang perlu dicermati ketiga pulau yang lebih dekat dengan wilayah Timor Leste ini? Ketiganya merupakan wilayah rawan bahaya dengan potensi gempa dan tsunami.

Dok Tim Wave

Foto: Dok. Tim Wave Indonesia

Terkait dengan potensi itu, tahun lalu, Tim Wave Tsunami Indonesia melakukan kajian paleotsunami di wilayah Maluku Barat Daya. Tim terdiri dari peneliti Universitas Brigham Young (BYU), Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku. Tujuan kajian tersebut untuk mengetahui mengenai endapan tsunami dan menyampaikan hasil kajian mengenai gempabumi dan tsunami kepada pemerintah dan masyarakat setempat.

Kepulauan di Maluku Barat Daya ini terletak lebih dekat ke Pulau Timor dan berbatasan dengan Timor Leste. Pulau Moa merupakan pulau terbesar dengan populasi sekitar lebih dari 10.000 jiwa, sedangkan Letti berpenduduk sekitar 7.600 jiwa. Meskipun berpenghuni sekian ribu jiwa, masyarakat di sana memiliki ancaman bencana gempa bumi dan tsunami.

2018_infografik_populasi penduduk MBDBerdasarkan laporan dari Tim Wave, beberapa kejadian gempa bumi terjadi di Maluku Barat Daya pada tahun 1917, 1793, 1814, 1815, 1836, 1852, 1857, dan 1975. Dari rentetan kejadian tersebut, secara statistik gempa terjadi 1 kali dalam kurun periode 37 tahun. Namun demikian setelah 42 tahun belum lagi terjadi fenomena alam tersebut sehingga kondisi ini mendorong perlunya perhatian dan kewaspadaan semua pihak, khususnya pemerintah dan masyarakat. Sementara itu, tsunami pernah tercatat pada 1629, 1657, 1674, 1659, 1710, 1711, 1754, 1763, 1815, 1820, 1837, 1841, 1852, 1857, 1859, 1882, 1885, 1891, 1899, 1914, dan 1938. Tsunami pada kurun waktu tersebut dipicu oleh gempa bumi di beberapa sumber seperti palung Timor, Banda, dan sumber lain.

Berdasarkan laporan dari Tim Wave, ancaman yang paling berbahaya adalah tsunami dari sumber arah selatan karena lebih dekat Palung Timor sebagai sumber gempa. Umumnya kejadian tsunami sumbernya berada di Utara dan Timur Pulau Moa.

Kajian lapangan ini memilih beberap tempat untuk melihat hasil endapan, seperti dari lubang trenching di Pulau Moa dan Letti. Dari hasil kajian, tim menemukan fosil organisme laut yang berada di dalam gua, Gua Raitawun, Desa Nuwewang, Kecamatan Letti, yang jaraknya 100 meter dari garis pantai. Lalu pada pinggir pantai juga ditemukan bongkahan batuan dasar laut yang terangkat.

20170622_093801

Foto: Dok. Tim Wave Indonesia

Kabupaten Maluku Barat Daya dibentuk berdasarkan Undang Undag Nomor 31 Tahun 2008 sebagai pemekaran dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Kabupaten ini memiliki 17 kecamatan dengan ibukota di Tiakur yang berada di Pulau Moa. Kabupaten dengan 48 pulau ini berpenduduk tersebar di 17 pulau. Masyarakat setempat memiliki nilai Kalwedo yang bermakna bahwa didalam tata perilaku adat orang MBD, bernada memberikan sebuah kepastian jiwa, hati, pikiran, dan sikap perbuatan yang saling menjamu dan saling berbagi kebaikan atau keselamatan hidup.

Hasil Kajian dan 20-10-20

Kajian lapangan yang menghasilkan data serta catatan sejarah tsunami sejak tahun 1500 sampai dengan 1900 yang disusun pada Katalog Wichmann kemudian memunculkan jargon 20-10-20. Hal serupa juga pernah dikemukakan oleh Pemimpin Tim Wave Profesor Ron Harris. Saat itu, Ron menyampaikan jargon 20-20-20 untuk mengingatkan masyarakat yang tinggal di wilayah Pacitan, Jawa Timur.

20-20-20

Sumber: BPBD Provinsi Maluku

Pada wilayah pulau-pulau di Maluku Barat Daya, tim mensosialisasikan 20-10-20. Angka 20 pertama merujuk pada durasi kejadian gempa selama 20 detik. Dengan gempa berdurasi waktu tersebut, masyarakat setempat memiliki waktu atau golden time hanya 10 menit untuk melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Angka 20 terakhir bermakna titik evakuasi yang harus ditempuh pada ketinggian 20 meter dari permukaan laut.

“Selain melakukan kajian lapangan, tim juga melakukan sosialisasi mengenai ancaman gempa bumi dan tsunami di hadapan pemerintah daerah, DPRD Kabupaten Maluku Barat Daya, pelajar SMA Negeri 1 Lemola dan masyarakat di Desa Nuwewang,” ujar Fretha Julian, petugas dari BPBD Provinsi Maluku.

Desain leaflet - GB 2

Sumber: BPBD Prov. Maluku

Sumber:
Majalah GEMA BNPB Vol. 9 Nomor 3 Desember 2018
Laporan Tim Waves Indonesia
Website Pemkab Maluku Barat Daya
Advertisements