Gempa M 7,4 Sulawesi Tengah

Gempa bermagnitudo 7,4 di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu mungkin di luar perkiraan kita semua. Magnitudo yang sangat kuat memicu tsunami yang menerjang secara cepat dan luput dari pantauan lembaga teknis pemantau gempa bumi dan tsunami. Gempa dengan magnitudo besar dan dangkal itu tidak hanya memicu tsunami tetapi fenomena likuifaksi dahsyat, dan longsoran yang menyebabkan akses menuju Kota Palu dan wilayah-wilayah sekitar tertutup.

Sesaat setelah terjadi gempa, warga menjadi panik. Tsunami menerjang pinggiran pantai hingga landaannya beberapa meter memasuki kota. Jembatan Kuning sebagai ikon Kota Palu pun tak berdaya menahan goncangan dan terjangan tsunami. Ratusan bangunan rusak parah bahkan roboh, dan beberapa wilayah terisolasi karena akses jalan menuju tempat itu tertutup longsoran.

2018_b_infografik_dampak dan penanganan gempa sulteng_versi 10

WhatsApp Image 2018-10-25 at 20.52.32

Mungkin warga Palu dan sekitarnya tidak mengira kekuatan gempa sore itu sangat besar. Pascagempa sebagian warga memutuskan untuk meninggalkan wilayah terdampak menuju Bandar Udara Mutiara Al-Jufri di Kota Palu. Hanya bandara yang bisa membawa mereka keluar dari Palu untuk sementara waktu. Mereka tersebar menuju destinasi pilihan mereka, seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Gorontalo. Data Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) sejak 30 September 2018 hingga 9 Oktober 2018 pukul 17.00 WITA, sejumlah warga yang mengungsi ke luar Sulawesi Tengah dengan menggunakan alat transportasi TNI sebanyak 18.132 orang. Sejumlah 10.623 orang melalui jalur udar menuju Makassar, 4.474 orang ke Balikpapan, Manado 526, Jakarta 385, Kendari 36, dan Surabaya 180, sedangkan 1.853 orang melalui jalur laut menuju Makassar dan 55 Nunukan.

Bencana gempa Sulawesi Tengah memiliki karakteristik tersendiri. Penanganan darurat pun menjadi berat karena akses terganggu untuk menuju wilayah terdampak. Akses jalan menuju Kota Palu tertutup longsoran, wilayah-wilayah seperti Kulawi dan Balaesang tertutup longsoran. Saat awal, tempat ini hanya dapat secara cepat diakses oleh helikopter. Tantangan yang dihadapi yaitu bagaimana mengidentifikasi wilayah terisolir melalui komunitkasi yang terputus total.

WhatsApp Image 2018-10-25 at 09.56.50

Sumber: BNPB

Wilayah terdampak gempa betul-betul terisolir. Landas pacu bandara hanya dapat diakses dengan pesawat baling-baling seperti C-130 Hercules, CN-295 atau pun helikopter. Pelabuhan tempat sandar tidak dapat diakses kapal laut untuk beberapa hari. Pelabuhan utama Kota Palu, Pantoloan, pun baru dapat digunakan pada hari ketiga pascagempa. Tertutupnya akses ini menghambat distribusi bantuan dari luar Kota Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong. Longsoran yang menutup akses jalan menjadi mimpi buruk untuk pendistribusian bantuan lewat jalur darat. Distribusi bantuan akhirnya disuplai melalui jalur udara namun tidak semua jenis pesawat dapat mendarat di landas pacu yang telah retak sepanjang 500 meter. Hercules milik TNI hilir mudik memasukkan bantuan logistik ke Kota Palu dan membawa mereka yang luka dan yang ingin mengungsi keluar Palu. Belum lagi jaringan telekomunikasi terputus di sebagian besar wilayah. Komunikasi dan koordinasi sulit untuk dilakukan; komunikasi radio juga harus didukung pasukan bahan bakar generator untuk menghidupkan peralatan.

Selain akses transportasi, gempa juga merusak jaringan pasokan listrik, jaringan telekomunikasi, jaringan distribusi air dan suplai bahan bakar minyak (BBM). Gempa yang terjadi menjelang malam membuat situasi sulit dikelola. Kondisi ini memperberat penanganan darurat pada dua minggu pertama pascagempa. Para responder sangat terbatas pergerakannya karena pasokan BBM sangat terbatas di satu sisi, penanganan darurat harus segera dilakukan dan tersebar di wilayah Kota Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong. Di sisi lain, pasokan BBM sangat dibutuhkan untuk menghidupkan generator-generator yang dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan medis darurat.

Untuk mendukung operasi penanganan darurat TNI mengerahkan armada udara untuk pendistribusian logistik bantuan. Dapat dibayangkan satu minggu pertama pascagempa yang dialami oleh para warga dan responder. Terlintas waktu itu apakah USAR internasional dapat membantu untuk membantu upaya evakuasi korban di reruntuhan, maupun mereka yang terjebak di wilayah likuifaksi.

WhatsApp Image 2018-10-25 at 09.56.46

Sumber: BNPB

Penanganan darurat sangat dipengaruhi oleh kerusakan infrastruktur, bandara, pelabuhan, dan jalan, kemudian pasokan energi, seperti listrik dan BBM serta jaringan komunikasi. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Willem Rampangilei tiba 16 jam setelah kejadian melalui jalur udara. Berikut cuplikan apa yang dialami oleh Kepala BNPB setibanya di Palu.

“Bandara saat itu terdampak dan tidak berfungsi, tidak ada petugas, tidak ada transportasi dan listrik. Jaringan seluler tidak berfungsi. SPBU tidak berfungsi. Suasana sangat mencekam. Saat di RS Undata ada ratusan jenasah di halaman rumah sakit. Banyak yang dirawat di tempat terbuka. Golden time 3 hari persediaan logistik dan peralatan terbatas. Suplai logistik dan peralatan tidak dapat dilakukan lewat darat. Setelah 5 hari baru bisa melakukan upaya tanggap darurat secara efektif.”

WhatsApp Image 2018-10-25 at 20.52.33

Setelah pemulihan infrastruktur dan kebutuhan dasar dilakukan, seperti akses jalan darat, laut dan udara, listrik, air, BBM, dan telekomunikasi, penanganan darurat dapat berjalan dengan lebih baik. Sempat terjadi beberapa hari, meskipun suplai BBM mulai membaik, distribusi logistik tidak semudah yang diperkirakan. Jumlah kendaraan yang dapat diakses dan pengemudi yang tersedia. Namun demikian untuk menembus medan yang sulit dan masih terisolir, dukungan helikopter tetap menjadi pilihan pos komando yang disebut Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad). Ketika jalan masih terputus, personel TNI tidak hanya melakukan dropping bantuan, tetapi juga personel pengamanan dan personel medis di wilayah terisolir tersebut. Berikut ini sepotong pesan pendek terkait dukungan udara untuk distribusi logistik.

Tiap hari heli MI-8 hilir mudik droping bantuan ke Kulawi.

Ijin menambahkan laporan pengoperasian Heli MI8 BNPB pd hari Selasa 23 Okt 2018 sbb:

1. Start engine dimulai sejak pukul 06.00 WITA dan berakhir operasi pd pkl 15.30 WITA

2. Jumlah flight 8 kali (4 x PP Palu – Kulawi Kab.Sigi)

3. Misi:

a. Palu – Kulawi dropping logistik dari potensi NGO dlm cluster logistik (Nurul Hayat, Keuskupan Manado dan Plan) berupa beras, terpal, sembako, hygine kit, selimut, tambang, ember.

b. Kulawi – palu: membawa/evakuasi relawan maupun kelompok rentan yg akan berobat/keperluan mendadak ke palu (@10 – 20 org/flight)

4. Rabu 24 Okt 2018 dimulai pukul 06.00 WITA dgn misi yg sama hari sblmnya (dari NGO Plan, Yakkum, tim medis dan obat2an dan Karsa beras 1 ton)

 

  • 2018_a_infografik kejadian dan tantangan_versi 10

Fenomena Likuifaksi

Realitas yang memilukan terjadi ketika fenomena likuifaksi menguncang beberapa titik, seperti Balaroa, Petobo, Jono Oge dan Sibalaya. Selama ini kita mengenal gempa menyebabkan bangunan roboh atau longsor. Namun tidak dengan likuifaksi. Rumah-rumah rusak poranda terangkat beberapa meter dan ada juga kompleks rumah terkubur lumpur setelah dikoyak gempa. Sekumpulan rumah pun bergeser puluhan meter. Ribuan orang diperkirakan masih terkubur dan terperangkap di dalam rumah mereka dan evakuasi korban meninggal telah dihentikan oleh Tim Gabungan SAR per 11 Oktober 2018.

WhatsApp Image 2018-10-25 at 20.52.33 (1)

Beberapa orang bercerita mengenai bagaimana mereka bisa selamat. Kesempatan untuk hidup tidak akan terjadi apabila orang yang berlari untuk mencoba kembali untuk mengambil atau menolong orang yang terperangkap. Ada kisah ketika mereka terperosok ke dalam dan terlontar ke udara hingga akhirnya dapat menyelamatkan diri setelah terlontar ke atas dan segera meraih pohon.

Seorang ibu bercerita bagaimana dia bisa selamat. Saat itu, dia membuat kue di luar rumahnya di Balaroa. Dia berencana untuk menjajakan kue buatannya di Festival Pesona Palu Nomoni 2018 yang berlangsung di Pantai Talise. Ibu ini membuat kue di teras rumah sambil menunggu anaknya yang bermain di luar rumah. Biasanya jelang maghrib, anaknya tidak lagi bermain di luar rumah. Dia bisa saja membuat kue di dalam rumah, tetapi sore itu dia memilih untuk juga menjaga anaknya yang bermain di luar. Tiba-tiba gempa terjadi dan tanah mulai bergerak tidak beraturan. Dia pun meraih anaknya dan melompat dan melompat untuk meraih pijakan yang kuat. Sampai pada satu titik dia berdiri dengan dikelilingi bongkahan lapisan tanah dan puing-puing. Dia bertahan selama beberapa jam dan memastikan tidak ada gerakan tanah lagi. Dia bersama anak dan suami mampu bertahan dari dahsyatnya likuifaksi. Mereka kemudian mengungsi ke Palupi, Kecamatan Tatanga, beberapa kilometer dari Balaroa.

Gempa bumi Sulawesi Tengah patut menjadi pembelajaran bagi kita semua. Tsunami dengan cepat menerjang dan pergeseran maupun pergerakan tanah yang meruntuhkan bahkan hingga mengubur rumah-rumah.  Jutaan penduduk Indonesia terpapar potensi bahaya dengan kategori sedang hingga tinggi. Kita hidup di wilayah yang dilalui cincin api. Bahaya gempa dekat dengan kita. Ada baiknya kita menyadari potensi bahaya dan mempelajari kondisi tempat kita tinggal.

 

#SiapUntukSelamat

#BudayaSadarBencana

Advertisements