Tsunami Akibat Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Teringat kurang lebih 6 tahun yang lalu, seorang kolega dari negeri tetangga menanyakan mengenai Gunung Anak Krakatau. Waktu itu tidak terbayang sekalipun kengerian yang dapat dipicu oleh gunung api aktif namun tidak tampak berbahaya. Sekelompok peneliti (Giachetti, dkk. 2012) sebetulnya telah melakukan kajian terkait potensi tsunami apabila ada runtuhan lereng Gunung Anak Krakatau. Salah satu kajian dengan pemodelan menunjukkan potensi tsunami yang bisa mencapai beberapa wilayah seperti Merak, Anyer, dan Carita 35 – 45 menit setelah adanya longsoran. Dalam kesimpulan, para peneliti itu menyebutkan bahwa fenomena tsunami yang mungkin terjadi memiliki risiko yang signifikan karena populasi yang tinggi di sepanjang pesisir dan konsentrasi infrastruktur industry dan jalan, serta rendahnya elevasi daerah pesisir.

whatsapp image 2018-12-25 at 18.49.44 (1)

Sumber: BNPB

Kini kedahsyatan pun terjadi ketika tsunami menerjang ke beberapa wilayah yang dipicu oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Dari situs Badan Geologi, informasi diperoleh bahwa suatu letusan terjadi pada 22 Desember 2018, pukul 21.03 WIB dan selang beberapa waktu kemudian muncul berita tentang tsunami. Sebagian besar dari tubuh Gunung Anak Krakatau telah hilang, diperkirakan mengalami longsoran dan memicu tsunami yang menghantam beberapa wilayah di Provinsi Lampung dan Banten. Dikutip dari media massa, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kekuatan tremor saat letusan setara dengan magnitude 3,4. Tremor vulkanik ini memicu longsoran pada lereng gunung yang terpotret seluas 64 hektar.

breakingnews_co_id

Sumber: media

Tidak adanya perangkat yang mendeteksi tsunami yang dipicu oleh gempa tektonik pada akhirnya mengakibatkan jatuhnya korban meninggal dunia dan luka-luka. Aktivitas gunung api yang disertai tsunami ini dikategorikan sebagai rapid-onset event telah memberikan pembelajaran tentang bagaimana pentingnya membangun kesiapsiagaan masyarakat. Warga sangat dekat dengan informasi bahwa tsunami lebih dipicu karena gempa tektonik dan bukan aktivitas vulkanik. Belum lagi ketiadaan perangkat peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh aktivitas vulkanik telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan.

Aktivitas gunung yang tinggi mendorong Badan Geologi untuk menaikkan status tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi level III pada 27 Desember 2018, pukul 06.00 WIB. Rekomendasi yang dikeluarkan salah satunya larangan untuk mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 km dari kawah. Namun demikian, aktivitas vulkanik terus mengalami penurunan sejak Jumat, 28 Desember 2018, hingga hari ini.

whatsapp image 2018-12-25 at 18.49.44 (3)

Sumber: BNPB

Setelah letusan itu, Pusat Vulkanologi dan Migitasi Bencana Geologi (PVMBG) memperkirakan dua per tiga pada ketinggian lereng gunung luruh akibat letusan. Diperkirakan 150 – 180 juta m3 volume gunung hilang. Saat ini ketinggian hanya 110 meter dengan volume 40 – 70 juta m3. PVMBG menyampaikan bahwa berkurangnya volume tubuh gunung diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunung api yang disertai laju erupsi yang tinggi dari 24 – 27 Desember 2018.

whatsapp image 2018-12-29 at 19.20.13

Sumber: PVMBG

Tentu letusan tersebut tidak sebesar pada letusan dahsyat Gunung Krakatau 1883. Letusan tahun itu terjadi bersamaan Gunung Krakatau yang terdiri dari Gunung Danan, Rakata, dan Perboeatan. Begitu dahsyatnya letusan menyebabkan sebagian badan gunung hilang. Letusan yang terjadi pada 27 Agustus 1883 turut melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya. Letusan yang menyebabkan 36.417 korban jiwa tersebut berlangsung hingga Februari 1884. Banyak korban tewas disebabkan karena letusan dan tsunami. Saat itu, tsunami akibat aktivitas vulkanik menerjang pesisir Pulau Jawa dan Sumatera hingga 40 km jauhnya. Dan tentu, tsunami yang dipicu erupsi Karakatau kala itu jauh lebih hebat daripada yang terjadi 135 tahun kemudian ini.

whatsapp image 2018-12-25 at 18.49.44

Sumber: BNPB

Tsunami 22 Desember 2018 lalu  yang terjadi pada malam hari dan tanpa peringatan telah mengagetkan mereka yang berada di sepanjang pesisir pantai. Tsunami sunyi mengakibatkan ratusan warga menjadi korban tanpa sempat untuk menyelamatkan diri. Mungkin tidak adanya gempa tektonik membuat mereka tidak menyadari tsunami akan menghampiri mereka yang menikmati wilayah yang memang menjadi tempat wisata, khususnya di wilayah Pandeglang.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 30 Desember 2018, pukul 17.00 WIB atau hari ke-9 mencatat 437 jiwa meninggal dunia, 16 hilang, dan 14.059 luka-luka, sedangkan warga yang menempati pos – pos pengungsi berjumlah 33.719 jiwa. Tsunami yang terjadi malam itu berdampak di 5 kabupaten di 2 provinsi, yaitu 2 kabupaten (Pandeglang dan Serang) di Provinsi Banten, dan 3 kabupaten (Lampung Selatan, Tenggamus dan Pesawaran) di Provinsi Lampung.

Total rumah rusak berjumlah 2.752 unit, penginapan dan warung 92 unit, dan perahu 510 unit.  Wilayah terparah setelah terjangan tsunami teridentifikasi di wilayah Kabupaten Pandeglang. Di kabupaten ini, sejumlah 296 jiwa ditemukan tewas dan 8 lainnya masih dinyatakan hilang. Selain korban jiwa, kerusakan tercatat rumah rusak 1.012 unit, tempat penginapan 69 unit, dan kapal 401 unit. Menurut BNPB, banyaknya jumlah korban dilatarbelakangi beberapa wilayah yang terdampak merupakan tempat wisata dan pada saat kejadian sudah memasuki masa liburan. Namun hingga kini, belum ada detail data jumlah korban yang statusnya wisatawan pada saat kejadian.

whatsapp image 2018-12-25 at 18.49.44 (4)

Sumber: BNPB

whatsapp image 2018-12-24 at 14.14.39

Sumber: BNPB

Bencana menjelang pengujung tahun 2018 tentu menambah sederet kesedihan setelah bencana gempa NTB dan Sulawesi Tengah. Upaya kesiapsiagaan masih terus menjadi isu yang harus diinformasikan secara masif oleh semua pihak. Membangun kesadaran publik bahwa kita berada di wilayah yang rawan bencana masih terus relevan untuk digaungkan. Sudah sepatutnya setiap individu untuk berusaha mendapatkan informasi terkait potensi ancaman bahaya di sekitarnya, apabila kita memiliki anak-anak, mulailah untuk menginformasikan kepada mereka sejak dini. Berbagai informasi dapat kita peroleh dari berbagai sumber infomasi, baik melalui buku referensi, media massa, website, dan masih banyak lagi. Kesiapsiagaan keluarga menjadi prioritas dalam menjamin keselamatan diri sendiri dan individu-individu di sekeliling kita.

Advertisements