Lebih Waspada dan Siap untuk Selamat di Tahun 2019

Kejadian bencana di tahun 2018 lalu lebih kecil dibandingkan pada tahun 2017. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.572 kejadian bencana sepanjang 2018, sedangkan 2.372 pada 2017. Namun demikian pada tahun-tahun tersebut, bencana hidrometeorologi tetap dominan, seperti angin puting beliung, banjir, dan longsor.

foto longsor sukabumi

Foto: BNPB

Meskipun jumlah kejadian bencana lebih sedikit dibandingkan setahun lalu, jumlah korban meninggal dunia 12 kali lebih besar. Pada 2017, sejumlah 2.372 kejadian bencana menyebabkan korban meninggal 377 jiwa, sedangkan pada tahun lalu mencapai 4.814 jiwa. Angka yang tinggi tersebut tidak terlepas dari bencana gempa bumi dan tsunami di beberapa wilayah. Begitu juga jumlah jiwa terdampak dan mengungsi yang 3 kali lebih besar dibanding pada tahun 2017.

 

  2017 2018
Kejadian Bencana 2.372 2.572
Korban Meninggal dan Hilang (jiwa) 377 4.814
Korban Terdampak dan Mengungsi (jiwa) 3,49 juta 10,24 juta

 

Apabila dilihat dari jumlah sebaran kejadian bencana per provinsi, Jawa Tengah menempati urutas teratas dengan jumlah kejadian bencana mencapai 582 kali, Jawa Timur 448, Jawa Barat 339, Aceh 160 dan Kalimantan Selatan 97. Dua kabupaten di Jawa Tengah yang banyak mengalami kejadian bencana antara lain Cilacap 58 kali dan Magelang 43, sedangkan untuk wilayah di Jawa Timur yaitu Kabupaten Wonogiri 56 kali, dan Jawa Barat yaitu Bogor 78 kali. Kenyatan ini perlu diwaspadai bersama karena Pulau Jawa merupakan wilayah paling padat penduduk dibandingkan pulau-pulau lain di Indonesia. Potensi ancaman besar tidak hanya bencana hidrometeorologi tetapi juga geologi seperti gempa bumi yang dapat memicu terjadinya tsunami.

sebaran kejadian bencana 2018 per provinsi

Sumber: BNPB

Bencana tadi tidak hanya menimbulkan korban jiwa tetapi juga berdampak kerusakan hingga skala tinggi. Pada 2017 bencana merusak lebih dari 47 ribu unit rumah, sedangkan pada 2018 mencapai 320 ribu unit. Jumlah kerusakan hampir 7 kali lipat dibanding tahun 2017 tersebut tidak terlepas dari bencana gempa bumi dan tsunami di beberapa wilayah. Pada kasus bencana gempa di Provinsi Sulawesi Tengah, bencana gempa yang memicu tsunami dan likuifaksi berdampak sangat masif. Ribuan rumah hancur karena fenomena likuifaksi seperti di wilayah Petobo, Balaroa, Jono Oge dan Sibalaya.

 

Kerusakan (unit) 2017 2018
Rumah 47.963 320.000
Fasilitas Pendidikan 1.276 1.736
Fasilitas Kesehatan 114 106
Fasilitas Peribadatan 699 857

Melihat data BNPB pada 2017 lalu, rata-rata kerugian negara karena bencana sekita Rp 30 trilyun. Pada 2018 apabila melihat dua kejadian bencana di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah saja, total nilai kerusakan dan kerugian mencapai Rp 39 trilyun. Rehabilitasi dan rekonstruksi dengan prinsip build back better and safer.

whatsapp image 2018-12-25 at 18.49.44 (3)

Sumber: BNPB

Beban negara untuk penanggulangan bencana akan semakin berat apabila pencegahan dan mitigasi belum menjadi prioritas dalam semua aspek kehidupan dan pembangunana. Investasi untuk pengurangan risiko bencana sangat signifikan demikian juga penyiapan individu, keluarga dan masyarakat. Indonesia merupakan wilayah dengan keindahan yang subur tetapi juga rawan bencana. BNPB merilis bahwa prediksi kejadian bencana untuk tahun 2019 ini masih tetap tinggi. Bencana hidrometeorologi masih tetap mendominasi untuk tahun ini. Selain itu, kerusakan daerah aliran sungai (DAS), lahan kritis, laju kerusakan hutan, kerusakan lingkungan, perubahan penggunaan lahan dan tingginya kerentanan masih luas. Di samping itu, kajian paleotsunami oleh Profesor Ron Harris dari Brigham Young University menunjukkan bahwa saat ini wilayah nusantara berada pada fase bangun, dalam periode 100 – 300 tahun. Namun demikian, gempa sendiri belum dapat diprediksi secara pasti lokasi, berapa besar dan kapan. Belum lagi, kita masih memiliki 127 deretan gunung api aktif yang tidak hanya menyemburkan material vulkanik tetapi juga memicu tsunami.

Belajar dari tahun 2018, kita perlu lebih bekerja bersama dalam urusan penanggulangan bencana. Penanggulangan bencana merupakan urusan setiap individu. Data-data terkait dengan bencana 2018 tentu menjadi koreksi bersama. Apa yang menjadi target dalam Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015 – 2030 masih membutuhkan langkah-langkah yang strategis dan taktis. Adapun 7 target Kerangka Kerja Sendai 2015 – 2030 sebagai berikut:

  1. Mengurangi angka kematian rata-rata 100 per Keluarga
  2. Mengurangai orang terdampak rata-rata per 100 Keluarga
  3. Mengurangi kerugian ekonomi
  4. Mengurangi kerusakan infrastruktur kunci
  5. Meningkatkan jumlah negara dengan strategi dan rencana pengurangan risiko bencana
  6. Meningkatkan kerjasama internasional
  7. Meningkatkan cakupan dan akses terhadap sistem peringatan dini

Kewaspadaan dan kesiapsiagaan merupakan bagian parameter yang dapat membantu setiap individu untuk selamat dari bencana. Di samping itu, kesadaran setiap individu, keluarga dan masyarakat untuk memiliki rencana kesiapsiagaan juga membantu ketika mereka harus bertahan hidup pascabencana. Kita memiliki kekuatan yang sangat strategis untuk membangun bersama masyarakat yang tangguh. Desa Tangguh Bencana atau Destana yang mencapai angka lebih dari 2.700, forum PRB di 25 provinsi, dan ratusan fasilitator maupun ribuan relawan. Penguatan paradigma PRB tetap menjadi prioritas dalam penanggulangan bencana.

buku saku siaga bencanaSementara itu, pendidikan kebencanaan pada tahap dini dapat menjadi salah satu investasi untuk membangun kesadaran maupun kesiapsiagaan setiap individu. Namun tantangan dihadapi dalam konteks edukasi bencana. Dikutip dari artikel berjudul ‘Pentingkah Kurikulum Pendidikan Bencana’ oleh Avianto Amri (2019) bahwa ada tiga tantangan utama yaitu (1) Kemampuan guru yang masih rendah dalam mengajarkan pendidikan kebencanaan, (2) ketersediaan materi ajar terkait Pendidikan bencana yang masih terbatas, dan (3) lemahnya kebijakan yang ada terkait sekolah aman bencana. Kekuatan yang kita miliki tadi dapat digunakan untuk mendukung penyelenggaraan edukasi bencana di sekolah-sekolah.

inariskMari kita bersama mulai untuk memahami lingkungan tempat kita berada. Berbagai sumber dapat kita akses untuk mendapatkan pengetahuan mengenai ancaman bahaya. Kita juga dapat memanfaatkan beberapa aplikasi untuk menambah kesiapsiagaan diri dan keluarga. Seperti life360, InaRISK, MAGMA Indonesia, Info BMKG dan Siaga Bencana. Kita juga memiliki Hari Kesiapsiagaan Bencana yang jatuh setiap tanggal 26 April. Kita dapat memanfaatkan tanggal tersebut untuk berlatih untuk membangun kesiapsiagaan diri menghadapi bencana.

Advertisements