Hari Kesiapsiagaan Bencana

Terbawa ke tengah laut dan didorong kembali ke pantai membuat dirinya memiliki peluang untuk selamat. Bersyukur seorang lelaki yang berpegangan sebuah pohon berhasil meraih tangan dan menarik tubuhnya yang sudah membiru. Dia pun segera berpegangan erat pohon itu sehingga tidak terbawa arus ke tengah laut untuk kedua kalinya. Beberapa saat kemudian lelaki penyelamat memutuskan untuk mencari istri dan anaknya yang hilang saat itu.

whatsapp image 2018-12-25 at 18.49.44 (4)

Di atas sebuah  kisah seorang teman yang selamat setelah tsunami menerjang sebuah resort di Tanjung Lesung, Panimbang, Pandeglang Banten pada 22 Desember 2018 lalu. Sahabat itu bercerita ketika berada di tengah laut dirinya berusaha untuk mengapung dan sangat mengingat satu pesan, yaitu ‘jangan panik.’ Meskipun 99% hidup kita sudah berada di ambang ketidakpastian karena kedahsyatan fenomena alam, 1% keyakinan mampu menyelamatkan. Dia mengatakan latihan kebencanaan yang pernah diikuti menjadi bekal, meskipun latihan itu sangat jarang dilakukan dan tidak terkait dengan bencana tsunami, untuk selamat dari bencana.

Merefleksikan apa yang dialami sahabat tadi, sebuah pertanyaan terlintas apakah bisa selamat apabila mengalami bencana seperti itu?

Sementara itu, suatu survei situasi penyelamatan yang dilakukan di Jepang terkait dengan gempa besar di Kobe menunjukkan bahwa 34,9% selamat karena mampu menyelamatkan diri, 31,9% karena diselamatkan oleh keluarga, 28,1% karena diselamatkan tetangga, 2,6% karena pejalan kaki, 1,7% karena tim penyelamat, dan 0,9% karena faktor lain-lain.

Dua hal di atas memberikan pesan bagaimana keselamatan diri sangat dipengaruhi oleh diri kita sendiri. Selain itu, keselamatan sangat didukung oleh pengalaman seseorang dalam mengikuti latihan penanggulangan bencana. Ini yang melatarbelakangi Indonesia memilih 26 April sebagai momentum pelibatan semua pihak untuk berpartsipasi dalam latihan penanggulangan bencana. Tanggal 26 April ini kemudian disebut sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB). Tahun ini HKB bertujuan untuk membangun kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana dengan cara membangun partisipasi semua pihak. Informasi lebih lanjut terkait dengan penyelenggaraan HKB tahun ini dapat diakses pada tautan berikut ini siaga.bnpb.go.id.

Clipboard01
Foto: BNPB

Dilihat dari jumlah peserta yang telah mendaftar pada situs di atas, lebih dari 12 juta berkomitmen sebagai partisan HKB 2019. Catatan 2018 lalu, lebih dari 30 juta masyarakat berpartisipasi dalam HKB yang berlangsung serentak di seluruh Indonesia. Anda yang bekerja di sebuah institusi sangat mungkin untuk melakukan kegiatan bersama dalam institusi untuk menyelenggarakan latihan. Latihan yang bisa dilakukan itu pun sangat beragam, misalnya latihan evakuasi dari bangunan kantor atau mungkin uji alarm tanda bahaya. Kita dapat berdiskusi dengan lembaga penanggulangan bencana yang berwenang di daerah atau badan penanggulangan bencana daerah (BPBD).

Clipboard02

Lalu bagaimana dengan kita yang mungkin hanya dalam lingkup keluarga? Tema yang diusung HKB 2019 ini adalah “Kesiapsiagaan Dimulai Dari Diri, Keluaga Dan Komunitas.” Kita bisa berpartisipasi dengan melakukannya mulai dari keluarga dan lingkungan sekitar. Kita dapat mulai berpikir mengenai rencana darurat keluarga. Banyak hal yang bisa dilakukan, seperti mengenali lingkungan, tata ruang dalam rumah, posisi tabung gas, meter listrik, jendela kaca, akses evakuasi, titik kumpul, mencatat nomor kontak tim penyelamat, menyiapkan tas siaga, hingga berdiskusi dengan anggota keluarga apabila terjadi bencana. Kita juga bisa mulai mengenali potensi ancaman bahaya di sekitar kita dan mencoba teknologi aplikasi berbasis IOS atau android.

Bagaimana kita mengenali risiko yang ada di sekitar kita? Kita dapat menggunakan aplikasi bernama InaRISK Personal. Ini merupakan aplikasi yang menampilkan tingkat risiko bencana sekaligus saran untuk mitigasi, baik pada fase sebelum, saat dan sesudah bencana. Meskipun peta yang tersedia masih berskala 1 : 250.000, kita tetap perlu mendapatkan referensi informasi di sekitar kita. Selain itu, data hasil kajian risiko bencana pada aplikasi ini bersifat dinamis yang selalu berkembang sesuai dengan kondisi lapangan.

WhatsApp Image 2019-03-05 at 2.23.05 PM

Kita juga bisa menggunakan aplikasi Life360 yang dapat menghubungkan semua anggota keluarga. Kita dapat mengetahui posisi atau lokasi anggota keluarga kita yang juga menggunakan perangkat dan saling teregistrasi pada aplikasi yang sama. Ini bisa sangat membantu apabila kepanikan terjadi dan bencana memisahkan anggota keluarga. Selain itu, kita bisa memanfaatkan link cekposisi, khususnya terkait dengan ancaman bahaya erupsi Gunung Merapi dan Gunung Agung.

Latihan untuk membentuk kesiapsiagaan sangat penting untuk setiap pihak. Wilayah nusantara ini sangat rawan bencana. Kita tahu bahwa Indonesia dikelilingi cincin api atau ring of fire dengan 127 gunung api aktif, kemudian tiga lempeng tektonik aktif, kondisi geologi tanah serta kondisi iklim dan cuaca di wilayah khatulistiwa. Kenyatan ini menyebabkan negeri kita mengalami fenomena-fenomena alam yang dapat berujung bencana, seperti gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor, kekeringan, angin puting beliung, cuaca ekstrem.

Ayo kita berpartisipasi dalam Hari Kesiapsiagaan Bencana.

buku saku siaga bencana

Buku Saku 2018 Cetakan 3a (1)

 

#SiapUntukSelamat

#BudayaSadarBencana

#KitaJagaALAMJagaKita

Advertisements