Incident Command System [1]

Sebagian dari kita mungkin belum memahami mekanisme atau cara kerja penanganan darurat bencana di suatu wilayah. Di satu sisi, sering kita melihat di lokasi bencana, individu atau kelompok memberikan bantuan kemanusiaan, baik itu berupa tenaga, barang atau dana, secara langsung kepada warga terdampak. Mungkin, mereka dengan sengaja tidak menginformasikan terlebih dahulu ke suatu organisasi yang bertugas untuk melakukan penanganan darurat bencana atau pos komando (posko) penanganan darurat bencana.

Lalu, apakah mekanisme seperti ini yang diharapkan oleh sebuah posko di suatu wilayah terdampak bencana?

longsor ponorogo
Foto: BNPB

Di sisi lain, pemberi bantuan mungkin tidak paham mekanisme pemberian bantuan kemanusiaan sehingga mereka memberikannya kepada warga terdampak alias tidak berkoordinasi dengan posko.

Satu tantangan yang akan muncul yaitu suatu pertanyaan, apakah mereka (pemberi bantuan kemanusiaan) mengetahui dampak bantuan yang diberikan tanpa berkoordinasi dengan posko. Bisa jadi pemberian bantuan kemanusiaan tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip seperti do no harm atau neutrality. Pemberian bantuan kemanusiaan tanpa berkoordinasi sangat memungkinkan terjadinya duplikasi bantuan atau ketidakmerataan distribusi bantuan. Kondisi ini justru akan memicu terjadinya permasalahan atau bencana lanjutan.

Sementara itu, fungsi posko memang dimaksudkan oleh kepala daerah suatu wilayah agar penanganan darurat tersebut dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

Efektif berarti dengan sumber daya yang tersedia dapat memberikan perubahan atau dampak yang jelas.

Biasanya dalam konteks darurat, sumber daya seperti dana sangat terbatas, sehingga dengan sejumlah dana tadi penyelenggaraan penanganan darurat dapat berlangsung secara optimal dan memberikan solusi berkelanjutan.

Efisien bermakna bahwa dengan sumber daya yang terbatas tadi dapat dilakukan dengan waktu yang tepat, tidak ada duplikasi bantuan kepada warga terdampak; dengan kata lain sangat memperhatikan waktu, tenaga, dan biaya dalam penyelenggaraan penanganan darurat.

Penanganan darurat bencana di Indonesia secara regulasi, Peraturan Kepala BNPB Nomor 3 Tahun 2016 tentang Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana, diselenggarakan oleh posko yang sebelumnya telah diberikan kewenangan oleh kepala daerah terdampak bencana (delegation of authority). Namun dalam beberapa penanganan darurat bencana, posko diselenggarakan oleh lembaga yang ditunjuk oleh presiden, seperti penanganan darurat erupsi Merapi (2010), gempa bumi NTB (2018) dan gempa bumi dan tsunami Sulteng (2018).

Namun kali ini pembahasan tidak berfokus pada penanganan darurat bencana di tanah air tetapi referensi penanganan darurat di Amerika Serikat, yaitu incident command system atau ICS.

Apa sih yang menarik dari belajar ICS?

Salah satu fitur ICS yaitu memiliki standar terminologi, seperti incident commander, safety officer, divisions, groups, strike team, task force, staging area, base dan sebagainya. Standar terminologi tersebut sangat tampak jelas pada struktur organisasi yang dibentuk.

struktur ics

Standar terminologi ini tidak terbatas pada fungsi dalam struktur organisasi saja tetapi jabatan di organisasi, sumber daya dan juga fasilitas yang digunakan sebagai pendukung operasi. Seperti penggunaan task force dalam pengerahan personel di lapangan. Task force berarti kombinasi dari berbagai sumber daya yang menggunakan komunikasi umum yang beroperasi di bawah pengawasan langsung dari task force leader.

 

 

planning 3
Foto: USFS

Contoh lain penggunaan singkatan EMT, dalam konteks di Amerika Serikat dapat berarti Emergency Medical Treatment, Emergency Management Team, Emergency Medical Technician, dan sebagainya.

Mereka yang bekerja di bawah organisasi ini sangat paham ketika seseorang menyebut safety officer, planning section chief, penanganan dengan pendekatan division, atau group. Masing-masing unit paham terkait dengan struktur yang berlaku, sumber daya dan taktik yang digunakan di lapangan. Diakui bahwa dengan mengetahui standar terminologi ini, siapa pun dapat beradaptasi dengan cepat dalam penanganan darurat.

[Bersambung]

 

Advertisements