Bencana Hidro-meteorologi di Indonesia Paling Mematikan Hingga April 2019

Bencana hidro-meteorologi masih sangat dominan terjadi di Indonesia hingga akhir April 2019. Fenomena alam hidro-meteorologi yang berujung bencana tadi mengakibatkan dampak paling signifikan dibandingkan bencana geologi. Angin puting beliung, banjir dan longsor dengan total angka 1.508 kejadian menyebabkan 319 meninggal dunia dan 113 hilang.

WhatsApp Image 2019-04-28 at 12.26.14 PM
Foto: BPBD

Dampak kerusakan juga sangat besar dilihat pada sektor pemukiman, sejumlah 2.584 rumah mengalami rusak berat dan ribuan lain rusak sedang hingga ringan. Belum lagi pada bencana banjir, 115.731 rumah terendam genangan air dan bahkan lumpur.

Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) menunjukkan 98% dari total kejadian bencana adalah angin puting beliung, banjir dan tanah longsor. Sisanya adalah bencana yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, erupsi gunung api dan gelombang pasang. Berikut ini rincian data bencana dari Januari hingga April 2019, DIBI merekam 1.586 kejadian bencana yang menyebabkan 325 orang meninggal dunia, 113 orang hilang, 1.439 orang luka-luka, 996.143 orang mengungsi & terdampak, 22.253 unit rumah rusak (3.588 rusak berat, 3.289 rusak sedang, 15.376 rusak ringan), dan 638 fasilitas umum rusak. Fasilitas umum tersebut yaitu fasilitas pendidikan dengan 325 unit, peribadatan 235, dan kesehatan 78.

bencana januari sampai april 2019
Sumber: DIBI

Sementara itu, bencana yang paling banyak menyebakan korban jiwa selama 2019 yaitu:

  • Banjir dan longsor di Provinsi Sulawesi Selatan. Banjir yang berdampak pada 10 kabupaten/kota itu terjadi pada 22 Januari 2019. Sejumlah 82 warga meninggal dan 3 hilang, sedang 47 mengalami luka-luka. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 926 milyar.
  • Banjir dan longsor di Sentani, Papua pada 16 Maret 2019. Bencana ini menyebabkan 106 warga meninggal dan 17 lain hilang. Kerugian mencapai Rp 668 milyar.
  • Banjir dan longsor di Provinsi Bengkulu yang berdampak pada 9 kabupaten/kota pada 27 April 2019. Bencana ini mengakibatkan 30 orang meninggal dan 6 masih hilang. Perkiraan kerugian mencapai Rp 144 milyar.

Dilihat dari perbandingan tahun 2018, indikator kejadian bencana, korban meninggal dan hilang serta luka-luka pada tahun ini mengalami kenaikan. Kejadian bencana 2019 mengalami kenaikan 7,2% dibanding tahun 2018, korban meninggal dan hilang naik 192% serta luka-luka naik 212,1%.

WhatsApp Image 2019-04-29 at 2.45.53 PM
Foto: BPBD

Dilihat dari distribusi bencana per provinsi, sebagian besar kejadian bencana terjadi di wilayah Pulau Jawa. Provinsi Jawa Tengah mengalami 472 kejadian, Jawa Barat 367, dan Jawa Timur 245, sedangkan di luar Jawa, Sulawesi Selatan dengan 70 kejadian dan Aceh 51.

sebaran bencana provinsi april 2019
Sumber: BNPB

Sekian tragedi yang dipicu oleh fenomena alam ini perlu mendapatkan perhatian berbagai pihak, tidak hanya pemerintah tetapi juga para akademisi atau pakar, dunia usaha, media massa dan masyarakat (penta helix). Pemerintah menjadi yang terdepan karena memiliki peran sebagai regulator dalam penanggulangan bencana.

Tragedi yang dialami oleh masyarakat dilatarbelakangi oleh beragam faktor, seperti kondisi degradasi hutan dan lingkungan, daerah aliran sungai (DAS) kritis, perilaku budaya sadar bencana yang masih rendah, maupun rencana tata ruang wilayah yang lemah. Parameter kerentanan internal dan eksternal ini pada akhirnya berdampak pada kejadian bencana. Ketika masyarakat sudah mencoba untuk meningkatkan kapasitas, faktor eksternal belum sepenuhnya berpihak untuk mengurangi kerentanan. Misalnya pembangunan Kota Palu, Sulawesi Tengah yang berada di atas Sesar Palu Koro pada waktunya menelan ribuan korban jiwa. Sebetulnya hal tersebut telah diingatkan oleh Profesor Katili terkait Palu tidak layak menjadi ibu kota Sulawesi Tengah. Kemudian wilayah Kota Sentani yang dulunya pernah terlanda banjir bandang karena memang letaknya berada pada muka mulut lembah Pegunungan Cycloops.

Tantangan selanjutnya mengenai sistem peringatan dini khususnya bahaya hidro-meteorologi. Perlu identifikasi wilayah-wilayah di bagian hulu dan integrasi sistem peringatan dini menuju wilayah hilir. Bagi warga di bagian hilir mungkin dapat memperhitungkan debit hujan yang turun dengan intensitas deras dan periode yang lama, tetapi akan kesulitan untuk memprediksikan apa yang terjadi di bagian hulu.

WhatsApp Image 2019-04-29 at 2.46.03 PM
Foto: BPBD

Namun demikian, kesiapsiagaan juga terus ditingkatkan mengawali pergantian bulan. Beberapa wilayah di Indonesia akan mengalami perubahan cuaca yang signifikan sehingga kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan maupun kekeringan mulai dilakukan. Di sisi lain, kesiapsiagaan gempa bumi dan tsunami juga perlu menjadi prioritas mengingat fenomena alam tersebut tidak dapat diprediksi kapan dan dimana terjadinya. Salam Siap Siaga!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.